Kamis, 18 September 2014

KEHILANGAN ROBIN, BATMAN MENEBAR JEBAKAN DI GRUP PUISI 2, 7

“Anggaplah seorang pengendara motor yang melaju kencang, dan jalan di depannya ada lubang, maka tak pelak, jatuhlah dia. Atau bayangkan anak-anak yang tengah bermain kejar-kejaran di sebuah sawah yang habis panen, karena berlari kencang dan tidak hati-hati, salah satu dari mereka mengaduh karena terperosok jebakan celeng atau kakinya terjepit perangkap tikus.” Kurang lebih seperti itulah penggambaran saya tentang  istilah saya pribadi “Jebakan Batman” yang saya pergunakan saat berinteraksi dengan sahabat grup atau penyuka puisi 2,7 biar terasa santai namun dalam batas tetap serius pada permasalahan kekaryaan pola tuang 2,7.


Saat saya memberikan apresiasi pada suatu karya puisi pendek pola tuang 2,7, dan jika secara subyektif di rasa baca dan imaji pikir saya,  gaya pengungkapan puisi terkait tersebut terasa datar baca, dan hanya terbaca sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea, gagasan/tema, layaknya sebuah pernyataan dengan gaya pengucapan keumumman, serupa penulisan berita, atau juga serupa dengan gaya penulisan slogan, dalam artian tidak ada keluasan ruang makna lebih yang dapat ditawarkan dari susunan diksi/kata tertuang.

Selintas tentang Jebakan Batman dan fenomena ketergesaan penyair/pemuisi 2,7 dalam memosting karyanya, prof. Cunong Nunuk Suraja pada catatan tepinya yang bertajuk “SATU JAM YANG LALU JARING GRUP PUISI DUKOTU MENANGKAP TUJUH PEMUISI DELAPAN PUISI”, dengan sedikit canda menulis:

“…dalam esai tuan Imron Tohari sebagai menderas dengan cenderung terperosok pada jebakan batman. Entah jebakannya seperti apa karena tak pernah ditemukan Robin teman Batman memasang jebakan. Jebakan bum mungkinkah menjadikan sandungan pengunci sajak tujuh kata ini? Ini hal yang selalu mengharu-biru selain kepatuhan pada pola tuang dan juga kemahiran mengolahi maji jadi bum serta menahan deras langkah diksi.”

Istilah “Jebakan Batman” kalau dicari diKBBI, apalagi dalam istilah-istilah baku sastra, sememangnya tidak akan pernah ditemukan, ini memang saya maksudkan sebagai hal untuk menerangjelaskan ketertautan larik 1 dan 2 yang terasa laju menderas, cenderung cair/atau encer dalam memaparkan idea gagasan secara estetik puitika. Intinya, suatu istilah yang saya tujukan seperti sudah diterangjelaskan di atas, yang dipetakan dalam2 (dua) larik 7 (tujuh) kata saja.

Jadi sekali lagi saya tekankan di sini,bahwa istilah jebakan batman atau laju menderas itu merupakan perumpamaan yang saya buat  sendiri untuk keperluan interaksi komunikatif terkait dengan keindahan puitika pada puisi pendek pola tuang 2,7.  Laju menderas masihlah bisa ditolerir sejauh secara keseluruhan puisi masih menawarkan nilai kontemplasi. hanya saja kenyataan yang saya dapati  pada postingan puisi 2,7 selama ini, puisiyang terkena jebakan batman, istilah yang saya ciptakan sendiri tersebut,kecenderungannya justru tidak optimal dalam menampil hadirkan estetika puitik (keindahan bahasa puisi menciptakan keluasan ruang imaji) pun estetika makna (Keindahan bahasa dalam menyampaikan tema/amanat—menciptakan keluasan ruang kontempelasi) sehingga sangat berpotensi mengurangi daya letup, daya kejut, atau “bum” yang merupakan salah satu inti kekuatan utama pada pola tuang puisi 2koma7 ini.

Adapun puisi 2,7 yang saya maksudkan dengan istilah laju menderas atau terkena jebakan batman, saya pribadi mencirikannya sebagai berikut:

1.        Citraan yang ditampakkan oleh susunan kata dengan kata lainnya pada larik 1 belum tuntas, belum selesai, masih ngambang, dalam artian memerlukan larik 2 untuk menuntaskan serta menciptakan kesan kuat pernyataan yang menawarkan keluasan ruang imaji pada citraan utuh yang dibangun larik1. Atau bisa dikatakan gaya pengungkapannya terkesan hanya sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea/gagasan.pada citraan utuh yang dibangun larik 1. Atau bisa dikatakan gaya pengungkapannya terkesan hanya sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea/gagasan.

2.        Terkait poin 1 di atas, judul juga tidak mampu memberi korespondensi  yang menguatkan pernyataan larik 1 dalam membangun keluasan ruang imaji penghayat.

3.        Larik 2 saat berdiri sendiri pun dipadupadankan dengan judul, selain datar baca, makna yang dihantarkan ke permukaan, terasa hanya sebagai penyampai pesan saja, tidak lebih.

4.        Peran larik 2 sebagai larik eksekusi atau larik eksistensi, secara korespondensi dengan larik 1, terkesan hanya sebatas menerangkan atau sebatas memperjelas bangun citraan larik sebelumnya saja. Kekuatan “Bum” sebagai letupan emosi/keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, dll) yang diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam (kontempelasi) tidak terhadirkan dengan optimal.

5.         Secara keseluruhan bangunan utuh perwajahan puisi, gaya pengungkapan terasa datar baca, dan hanya terbaca sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea, gagasan/tema, layaknya sebuah pernyataan dengan gaya pengucapan keumumman, serupa penulisan berita, atau juga serupa dengan gaya penulisan slogan, dalam artian kurang ada (kalau tidak bisa dikatakan “tidak ada”) keluasan ruang makna lebih yang dapat ditawarkan dari susunan diksi/kata tertuang.


Beberapa contoh puisi 2,7 yang dimungkinkan terkena jebakan batman.



1.         OBSESI

            terjerat jemari obsesi
           mencengkeram segenap jiwa raga


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


2.         TEMU

            adakah temu
            yang jumpa pada ketidak pastian


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


3.         KEMBALI

           dia datang kembali
           hadirkan mimpi, menoreh illusi


          Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


4.         MIMPI

           adakah cerita ini
           cuma sepenggal episode mimpi


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari 2013


5.         KELUH

            air mata runtuh
            menyelinap di balik keluh


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


6.         TAK SANGGUP

            jiwamu nanar
           tak sanggup membedakan salah-benar


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013
           Pada puisi ini malah terhitung 6 kata, dengan perekatan kata /salah-benar/


7.         KORUPSI

           Negara ini begitu bobrok
           Basmi! tikus-tikus negara

           lifespirit, 2 januari 2014


8.         KONDOM 

           Membagi-bagikan kondom berdalih  ini-itu
           Moral bangsa dipertaruhkan

           lifespirit, 2 January 2014


9.         DEBAR CINTA

            Jantungku berdebar kencang
            Saat menatap bening matamu

            lifespirit, 2 January 2014


10.       ENGKAU KUCINTA ENGKAU KHIANATIKU

            Mengapa kautega khianatiku
            Padahal aku sangat mencintaimu

            lifespirit, 2 January 2014


11.       DI MATAMU YANG SEDIH

            Kutatap redup bola matamu
            Dan hatiku membasah

            lifespirit, 31 Agustus 2014


12.       KELUH

            Aku sudah banyak berdoa padaNya
            Kenapa begini?

            lifespirit, 31 Agustus 2014


13.       CINTA TERKUNGKUNG SEKAT

             Kumelihatmu seperti merpati 
             Di dalam sangkar emas

             lifespirit, 5 September 2014


14.       GELOMBANG ASMARA

            cinta dan kasmaran, aku
            lalu menemuimu, mendekapmu

            lifespirit, 5 September 2014


15.       PADAMU ‘KU BERTOBAT

            ‘Kan kulebur dosa-dosaku agar berumah
            Di syurga

            lifespirit, 5 September 2014



Dari 15 puisi pola tuang 2,7 yang dicontohkan di atas, selain terasa laju menderas, encer, pun jika dicermati, secara keseluruhan puisi tidak menawarkan keluasan imaji dan juga keluasan ruang kontempelasi (nilai kontemplasi. )

Bandingkan dengan 10 puisi di bawah ini, yang sebenarnya mempunyai tingkat kecenderungan tinggi terkena jebakan batman, namun, ketepatan dalam memanfaatkan tekhnik typografipoetika, enjambemen, dan pilihan diksi yang cukup baik,  telah mampu menahan laju menderas, mampu menampakkan simbol puitik, kias, pun imaji dalam menjaga keutuhan citraan suasana yang menjadi peran penting larik 1 (satu), dan juga mampu menghadir fungsikan larik 2 (dua) sebagai larik eksekusi yang sarat muatan emosi, pysycologis, dan permenungan (kontempelasi).

Namun sebelum kita membandingkannya (terutama pada puisi yang sama-sama ada kata hubung “di”), terlebih dulu akan saya paparkan hal-hal yang berkaitan dengan puisi 2,7 yang sebenarnya berpotensi tinggi terkena jebakan batman, namun dengan memahami tata sastra terkait gaya pengungkapan puisi yang baik, maka puisi tersebut akan mampu mengurangi laju menderas yang timbul, atau bahkan mampu menghidari jebakan batman yang saya istilahkan tersebut dengan baik, yang saya cirikan sebagai berikut:

1.         Citraan yang ditampakkan oleh susunan kata dengan kata lainnya pada larik 1 sudah tuntas, atau bisa juga dianggap sudah selesai, dalam artian mampu berdiri sendiri walau seandainya tanpa  didukung oleh keberadaan larik 2 untuk menuntaskan serta memperoleh keindahan makna (Keindahan bahasa dalam menyampaikan tema/amanat—menciptakan keluasan ruang kontempelasi)   pada citraan utuh yang dibangun larik 1.

2.        Terkait poin 1 di atas,  saat judul ditarik masuk ke dalam, citraan suasana yang telah terbentuk di larik satu kian menjadi kuat ruang imaji yang ditawarkan ke penghayat (hal ini biasanya terkait dengan kemampuan penyair dalam megoptimalkan tekhnik typografipoetika dan enjambemen dengan tepat).

3.        Demikian pula pada larik 2, tanpa atau bahkan mungkin dengan adanya kata penghubung, semisal:  di, ke, dan, yang, dengan, lalu, dll, saat berdiri sendiri, susunan kata dengan kata lainnya tetap mampu memerankan fungsilarik dua sebagai larik eksekusi, larik yang mampu menawarkan nilai kontempelasi dengan baik, walau seandainya tanpa terkait paut dengan larik satu sekalipun.

4.        Saat judul dan larik satu masuk untuk bersenyawa dengan larik 2, menjadikan susunan kata dengan kata lainnya dalam larik 2 tersebut kian bernas, kian hidup, kian memberi nilai tambah keluasan ruang renung, ruang kontempelasi, dan atau korespondensi antar larikdan judul tidak menjadikannya renggang, namun justru kian memberi kesan kuat diolah rasa, olah imaji, olah pikir penghayat.


5.         Typografipoetika dan enjambemen yang dimanfaatkan dengan tepat, akan memberi pengayaan secara keseluruhan perwajahan puisi, sehingga gaya pengungkapan minimal akan memenuhi  ciri-ciri yang tergambarkan pada poin 1 sampai dengan poin 4 di atas, dan bisa saya katakan puisi pola tuang 2,7 termaksud telah mampu meredam, bahkan memungkinkan untuk menetralisir seminim mungkin adanya jebakan batman.


Beberapa contoh puisi 2,7 yang menurut saya pribadi gaya pengungkapannya mampu meredam jebakan batman:


1.         MENCINTAIMU

            Kubiarkan mataku menggali kubur
            Dengan huruf huruf


            lifespirit, rev 24 Des 2012


2.         TENTANG KEYAKINAN

            Beribu jalan beribu semak
            Dan aku merindukanmu

            lifespirit, 24 December 2012



3.         KARANG

           Sebongkah karang membaca sepi
           Di lautMu tenggelam

           lifespirit, 25 Desember 2012


4.         MENYEMESTA II

            pada mulanya gaduh
           dalam ning, siapa debur?


           lifespirit, 30 Desember 2012


5.         KAU LEBIH DARI SEKEDAR PUISI

            sebaris kata-kata mengalir, nama-Mu
           di waktu subuh


           lifespirit 3 Januari 2013
           Inspiring Alfiah Muntaz


6.         HABIS PISAH

            terbelah jarak kembali bersua
           di matamu, tenggelam

           lifespirit, 6 Januari 2013


7.         RINDU MALAM

            malam kelam
            tersimpan sebongkah rindu yang dalam


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


8.         NOSTALGIA

            bayu masa silam
            melarung jiwaku hingga tenggelam


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


9.         SEPI

           Sepasang kursi tua
           Mengkhatamkan waktu tanpa bicara


           Djuhardi Basri, Kotabumi, 13122013



10.       KUNANG-KUNANG

           gelap dan sendiri
           di tapal batas hidup


           Bintang Kartika, september, 2014



11.     MENEMUKAN KHUSYU' YANG HILANG 

          di sana-sini. Tak
          di dalam, Allahu Akbar

          Denting Kemuning, 140914

Puisi ini bagus, kesederhanaan ungkap serta pemadatan kata berhasil baik memikul beban tema refleksi kerohanian aku lirik.

Enjambemen pada diksi /Tak/, menjadikan keberadaan kata /di dalam/ pada larik dua memunculkan ambiguitas yang dalam, yang menusuk jauh ke dalam batin hayatan. Selain itu, /di/ yang sering menjadi alibi terkena jebakan Batman jika diletakkan pada awal larik, maka pada puisi / MENEMUKAN KHUSYU' YANG HILANG /, diksi /di/ yang ada diawal kedua larik puisi ini juga berhasil terhindar dari jebakan Batman, dan ini sesuai dengan yang dicirikan di atas (Baca:  hal-hal yang berkaitan dengan puisi 2,7 yang sebenarnya berpotensi tinggi terkena jebakan batman).

Ketepatan penggunaan tekhnik enjambemen, saya selaku penikmat baca di dorong masuk untuk merenungi pertautan dan atau korespondensi dari kata /Tak/ yang terenjambemen tersebut, saat di mana /Tak/ menjadikan dirinya bahasa yang diam,

Tak
di dalam, Allahu Akbar


Saya mengambil artikannya seperti ini (ctt: diksi /Tak/ tetap terkait kata sebelumnya yang tidak saya tampakkan di sini), tidak di luar (sana-sini; di mana-mana), namun ada di dalam diri, di dalam hati, di dalam keyakinan spiritual, Allah Maha besar.

Dan manakala /Tak/ yang menjadikan dirinya bahasa yang menjulur masuk bersenyawa dengan kata dalam larik berikutnya.

Tak di dalam, Allahu Akbar

Pada bahasa /Tak/ yang masih bergerak menjulurkan dirinya ke larik berikutnya, hayatan saya sontak serasa dibetot dengan permenungan yang dalam, betapa sesungguhnya keimanan itu tidak ada di luar pun di dalam semata, namun hakikat esensi tersebut terletak pada kualitas ketawadukan, kekhusyukan kita pada Kebesaran Allah SWT.


Pernah terlintas dipikiran saya : “lalu bagaimana kalau yang terpenuhi hanya fisik puisi saja, dalam pengertian yang terpenuhi hanya 2 baris, 7 kata-nya saja? Apa masih bisa disebut sebagai puisi pola tuang 2,7 (baca: 2 baris, 7 kata) ?”

Jika nilai ukurnya adalah baris dan kata, maka hal tersebut telah memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam puisi 2,7 (Selanjutnya baca: 2 baris, 7 kata), namun untuk disebut sebagai puisi 2,7 yang memenuhi semua syarat: baik jumlah baris, kata, serta kekuatan estetik bahasa dan estetik makna (baca: keluasan ruang imaji) yang merupakan prasyarat wajib  untuk suatu karya 2,7 layak disebut puisi memuisi atau hanya setara dengan slogan/pernyataan, tentunya perlu juga diperhatikan prasyarat lain yang menyerta pada desain pola tuang 2,7 ini ( Seperti diterangjelaskan tulisan di atas ).

Dalam bercipta karya Puisi 2, 7 (2 baris, 7 kata) ini, kalau tidak hati-hati dan hanya terangsang untuk nulis nulis nulis tanpa diimbangi pengontrolan emosi yang terus nyundul mendorong untuk bersegera jadi, maka hasilnya hanya akan sekedar fisiknya saja yang 2, 7 . Dan kalau tidak hati-hati dalam menyampaikan bahasa ungkap, maka akan seperti puisi yang tersirat pada puisi sarat pesan satire karya Alfiah Muntaz di bawah ini :

DEVIASI 

diksi-diksi ejakulasi dini
jauh puisi dari orgasme

(Alfiah Muntaz, 10 Januari 2013, Bangka)

Lalu bagaimana agar puisi pola tuang 2,7 yang dibuat terhindar dari jebakan batman?

Emotion Quality Control (EQC) sangat berperan penting dalam konteks ini, sehingga dalam proses penciptaan puisi 2,7 tidak terlepas dari 10 pokok dasar penciptaan sebuah karya puisi, yang saya tulis di bawah ini:

1.     Penuhi prasyarat mutlak struktur puisi dalam 2 baris, 7 kata, dan penanda akhir puisi (tanggal pembuatan/titimangsa; berfungsi sebagai rekam jejak kekaryaan)

2.     Kekuatan estetik bahasa dan makna judul upayakan bersenyawa (menjadi padu/menjadi satu benar) dengan isi.

3.     Jangan terburu-buru posting, baca sekali lagi dengan memposisikan sebagai penikmat baca, agar bisa merasakan apakah ekspresi/ Penjiwaan karya sudah sesuai yang diharapkan penulis yang sekaligus selaku penghayat.

4.     Upayakan pemilihan diksi sebisa mungkin bertaut dengan diksi lainnya secara utuh memberi citraan latar suasana baris 1.

5.     Hal tak kalah penting: Tipografipoetika/ pemetaan kata/ enjambemen baris1 ke baris 2 yang baik akan menjadikan karya puisi 2, 7 aliran perpindahan antar baris tidak melaju terlalu cepat sehingga karya tidak datar baca ( kalau tidak boleh dikatakan datar atau serupa pernyataan, cerita, ungkapan yang biasa saja), tipografipoetika/ pemetaan kata/ enjambemen yang baik akan memberi nilai tambah pada keluasan ruang rasa imaji pikir penghayat/penikmat baca.

6.     Perhatikan keselarasan/ kesenyawaan baris 2 dalam upayanya meletupkan rasa imaji citraan baris 1.

7.     Kunci penting berhasil tidaknya puisi 2, 7 dalam memberikan nilai pikir kekinian di rasa imaji penghayat, adalah seberapa kuat pengkarya cipta memberi denyut/nilai kejut/daya hisap kontemplasi/ rangsangan emosional yang diletupkan baris 2.

8.     Setelah puisi 2, 7 jadi, proses pengendapan dengan cara membaca ulang dan meresapi sepenuh rasa jiwa, pengkarya cipta akan bisa merasakan apakah karyanya tadi sudah mempunyai nilai puitik/ keindahan/ estetik bahasa secara keseluruhan dari batang tubuh puisi secara utuh.

9.     Sebelum dipublish, kaji sekali lagi apakah makna tersurat keseluruhan batang tubuh puisi sesuai dengan yang diharapkan.

10. Sebelum dipublish, kaji sekali lagi apakah makna tersirat keseluruhan batang tubuh puisi memberi nilai pengayaan makna/tafsir pada penikmat baca/ penghayat .


Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi para penyuka dan pencinta puisi pola tuang 2koma7.


(lifespirit, 31 Agustus 2014)

TEKNIK MENULIS PUISI

Oleh. Moh. Ghufron Cholid

Puisi jalan alternatif membidik diri, menajamkan kepekaan dan memulihkan keakraban. Puisi juga menjadi jalan mengenalkan sejarah dengan segenap laju degupnya pada generasi mendatang, yang belum sempat berpapasan dengan penyairnya dan belum sempat jadi saksi mata atas sejarah. Moh. Ghufron Cholid

Pendahuluan
Meski penghormatan terhadap puisi, secara finansial tak terlalu menggembirakan dibandingkan karya sastra lain seperti cerpen dan novel, puisi akan terus tumbuh subur baik untuk ditulis maupun dibacakan, dalam acara-acara bergengsi. Baik dalam memperingati hari kemerdekaan maupun hari besar agama dan kegiatan akhir tahun pesantren.

Minat pada puisi tak pernah sepi, kendati minat membeli buku puisi sangat memprihatinkan. Namun puisi selalu tampil memukau, dan selalu melahirkan sudut pandang baru bagi pembacanya.

Apresiasi atas tumbuh suburnya puisi harus kita syukuri seraya terus meningkatkan mutu karya. Berbicara mutu tentu tak bisa dipisahkan dari pilihan-pilihan yang disodorkan oleh penyairnya, tentang apa yang ingin dikedepankan. Amanat pesan atau keindahan bahasa maupun perpaduan dari kedua metode, yang tentunya punya kelebihan dan kekurangan berikut hambatan dalam pembuatannya.

Jika amanat pesan yang diutamakan, keindahan bahasa diletakkan di posisi kedua maka yang dialami adalah maksud mudah ditangkap. Pembaca tak perlu membaca berulang-ulang untuk memahaminya. Kelebihannya terletak pada pesan yang terang benderang, kekurangannya ada pada kekeringan jauh dari kesan berindah-indah.

Berikut saya hadirkan contoh yang ada di bait akhir puisi Lily Siti Multatuliana yang memakai teknik mendahulukan amanat pesan daripada memperindah bahasa.

...
Senja menjelang
Malampun datang
Aku bersujud dan berkalam
CintaMu KasihMu yang abadi
Kunikmati tiada henti

(bait akhir puisi RAHMAT-MU karya Lily Siti Multatuliana dalam buku Menyirat Cinta Haqiqi, halaman 131)

Lily mengungkap suatu yang lumrah dengan terang menderang yang intinya ingin menerangkan cinta dan kasih Allah itu abadi. Jadi puisi ini lebih menjurus pada upaya mengenalkan pada manusia bahwa yang abadi hanya cinta dan kasih Allah yang lain sifatnya tidak kekal.

Teknik yang memilih keindahan berbahasa diletakkan diporsi utama dan menomor duakan amanat pesan, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan kerja ekstra yakni

BUHUL NUMERA KEMALA
HAZWAN ARIFF HAKIMI

bulan cedera dalam buhul kecubung ungu
brunei mengepung bulan bruneinya
filipina mengepung bulan filipinanya
indonesia mengepung bulan indonesianya
malaysia mengepung bulan malaysianya
(melayu mana mengepung bulan melayunya?)
naga eropa telahpun meretas urna bulan, mencolok,
darah hanyir, menetas lidah penyair, puisi-puisi melayu tertancap, bersayap bung hatta, bung karno, burhanuddin al-helmy, pak sako ke guruh numera
malam luruh membalut jantung bulan luka
pending di dadanya menggoncang
atmosfer visioner mengerongsang
bulan jendera dalam buhul numera kemala-Mu.

Agaknya Hazwan telah memilih langkah untuk memperkenalkan puisinya dengan bahasa yang indah, mengakrabi maknanya haruslah bersabar dan berulang-ulang membaca puisi Hazwan penyair dari Malaysia ini.

Sementara puisi yang memadukan antara amanat pesan dan keindahan bahasa namun tak menyulitkan pembacanya dalam menangkap segala isyarat yang ada, berikut saya hadirkan puisi ATAMINI, GADIS KECIL ITU karya Syarifuddin Ariffin, di bait akhir puisinya ia menulis, gadis kecil yang membatukan hati itu/menderaskan airmatanya/menyirami tanah di sepanjang Gaza/di kuburan massal tanah empedu/darah menyuburkan tanah/tunas-tunas bangsa sepanjang masa.

Dari bait penutup puisi Syarifuddin kita temukan perpaduan antara amanat pesan dan keindahan bahasa secara seimbang. Ianya hadir dengan amanat pesan yang mudah ditangkap di sisi lain ada keindahan bahasa yang ditampilkan yakni pemakaian, membatukan hati, tanah empedu atau darah menyuburkan tanah.

Simbol untuk menunjukkan adanya duka telah ditempatkan sesuai porsinya.

Kesimpulan
Paling tidak dalam menulis puisi ada tiga teknik yang bisa ditempuh oleh tiap penyair yakni 1) mengedepankan amanat pesan dan mengabaikan keindahan bahasa 2) mengedepankan keindahan bahasa dibanding amanat pesan sehingga untuk menemukan intisari dari sebuah puisi diperlukan pembacaan berulang-ulang 3) memadukan amanat pesan dan keindahan bahasa, untuk teknik ketiga bisa ditemukan di puisi lain seperti Aku Ingin karya Sapardi atau Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM.

Semoga catatan tentang teknik menulis puisi meski sedikit ada kemanfaatan di dalamnya. Salam persahabatan dan salam karya dari tanah Sakera penuh cinta, Madura.

Madura, 18 September 2014

Rabu, 17 September 2014

PUISI-PUISI MOH. GHUFRON CHOLID

 

PESANTREN PENYAIR NUSANTARA

akulah pesantren penyair nusantara
tempat menempa jiwa
berburu makna, berburu ridha

menumbuhkan pohon cinta
di mata, di jiwa
menebas awan duka
dan prasangka

2014

JADWAL KENCAN

Menuju pelabuhan kasihMu
O Tuhan
Hantarkan aku pada pelayaran penuh rindu

Gelombang dan riak
Hadiah teman setia dariMu
Untuku di tiap pelayaranku
Fantasi-fantasi yang kau anugrahkan padaku
Renungan bertabur rayu
O Tuhanku
Nun yang tak bisa kujangkau

Ciumlah aku dengan senyum kasihMu
Hingga aku tahu
O Tuhanku
Llima lembar waktu jadwal temu
Iringi irama rindu
Dan kutambah jadwal kencanku di beranda tahajud serta altar dhuha

Al-Amien, 2010 
LANGIT MADURA
: Badrut Tamam

langit madura, masih sama
ketika kita merapatkan aksara-aksara
membentuk doa
yang dari rahimnya, lahir cahaya

langit madura, masih sama
setia, menjabarkan mimpi kita
meski mata tak bersitatap
juang masih letup
mengukur degup

langit madura, masih sama
dulu, kini dan mendatang
setia jadi saksi mata
tak ada mimpi sia-sia
ketika percaya, mesra
menyalami sukma

Madura, 2 September 2014



KAU YANG KUSEBUT MAMA

kau yang kusebut mama 

yang meneduhkan jiwa
meski tak melahirkanku ke dunia
tatap dan ucapmu setenang telaga
di sisimu selaksa mendapat surga

kau yang kusebut mama
seutuh hati memberi cinta
tak ada tangan risau
kau berikan padaku
tenang hatiku
menatapmu, mama

kau yang kusebut mama
di awal jumpa
kau raibkan gusarku
kau tenangkan hatiku
kau kenalkan aku
pada tanahmu sepenuh restu
tiada ragu menyebutmu, mama 

Biodata Penulis
Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya-karyanya tersebar di berbagai media seperti Mingguan Malaysia, New Sabah Times, Mingguan Wanita Malaysia, Mingguan WartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta dll juga terkumpul dalam berbagai antologi baik cetak maupun online, terbit di dalam maupun luar negeri seperti Mengasah Alief, Epitaf Arau, Menyirat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Ketika Gaza Penyair Membantah, Unggun Kebahagiaan, Anjung Serindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet dll. Beberapa puisinya pernah dibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di Rumah Makan Biyung Jemursari Surabaya dalam acara buka bersama Pipiet Senja (30 Juli 2012), di Jogja dalam Save Palestina (2012), di Sragen dalam Temu 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongan dalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di Sastra Reboan dalam Temu Sastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam Kongres Penyair Sedunia ke 33 (21,23, 26 Oktober 2013) Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. HP 087759753073 

PUISI-PUISI ASRIZAL NUR


 

 

BELAJAR DENGAN BAHASA DAUN



Mengapa menara yang kita dirikan
bila kaki terhimpit pilarnya
kenapa bukan bangun kincir
sehingga riak telaga jadi samudra

kita terlanjur suka gemerlap neon ria
sedang kabelnya dibiarkan konslet di gudang jiwa
kota kota adalah gugusan bintang
kita ciptakan dari hati yang kelam

belajarlah dengan bahasa daun
saat hening
bersahabat dengan :
angin, kerikil  telaga
burungpun bernyanyi
embun senggayut di rerantingan

belajarlah dengan bahasa daun
bila gugur
tercipta kehidupan baru




Pekanbaru, 1996
JANJI MUSAFIR
 
Di  gurun  tak berujung
musafir  telan embun
reguk  peluhletihnya
rindu sebiji kurma buah hidup

kabut tutup mata harap
nafas  terlunta didera rindu :

“ datanglah penolong
   beri seteguk air
   sepotong  roti
   aku sedia jadi abdi abadi”

ia ucap kala berdiri dan tersungkur
tapi tak  sua harap
lagi lagi  kabut
dihempas badai kusut


di ujung hari lelah 
bola mata cahaya pengharapan
ngerlip di bahu  pasir
seru jiwa hampir pergi
semangatnya  menyala

lalu darah  aliri tubuh  nyaris mati
walau tak seirama
kekuatan hati dan  raga yang biru
harap zikir  berkali diucap

lalu ia terjerembab di  kaki penolong
impian zikirnya nyata

di rumah beratap cahaya
dengan senyum terangbulan
pemilik rumah berkata :

“ bangunlah!
  ini  tempat pergi dan kembali”

dengan nafas  ringkih
musafir bisikkan ucap
yang kerapkali dilafazkan

pemilik rumah memapahnya
dengan kasih setinggi gunung
direbahkan di atas pahanya yang sutra
seka luka dengan telapak salju
lalu suapkan  nirwana

musafir memagut  dirinya yang hampir hilang
riang bagai kejatuhan bintang :

“ aku  minta seteguk air tapi kau hilangkan dahagaku berjuta tahun
aku  harap sepotong roti  kau lenyapkan lapar sepanjang abad
 jadikan jadikan aku pesuruhmu abadi “

 “ ini  tempat pergi dan kembali
   jika lapar bertanaklah
   bila haus gayung telaga
   ternak ternak pelihara
   tanam tanaman jaga
   karena dengan bertanam dan memelihara
   kau akan  ngerti makna hidup
   berjanjilah!
   jadi pesuruh  diri sendiri
   sebelum  paham jadi abdi abadi ”

musafir sujud di kaki pemilik rumah 
mencium dengan air mata cinta

“ ya aku berjanji jadi pesuruh diri sendiri”

hari pertama ia tepati
hari kedua masih
hari ketiga mulai menipu diri
selanjutnya lupa  janji.

sipemilik rumah menuntut janji
dengan tatapan   garang matahari
namun senyum terang bulan masih lekat di bibirnya

“ disini hanya rumah ini
   jika kuusir engkau tak ada lagi tempat dituju”

musafir  gemetaran, darahnya terbang
nyawa bagai tersangkut  diawang
ia menampar diri  sekuat sedu
tersengat tatapan garangmatahari 
dipukau senyum terangbulan itu

seperti angin meniup debu
maaf terbuka selebar cakrawala

musafir   dihempas sesalnya
tersungkur bersimbah doa

Depok, 11 Pebruari 2005
  

MAJELIS ZIKIR  DEDAUNAN 

Pada mulanya 
rimba raya sajadah doa
majelis zikir dedaunan

daun  rayu ranting berzikir
                              ranting berzikir
ranting bujuk dahan berzikir
                             dahan berzikir
dahan panggil pohon berzikir
                             pohon berzikir
pohon bawa rimba berzikir
                            rimba berzikir
rimba ajak penebang berzikir
                             penebang mungkir
                             balas
                             tebas
                             bakar

lantas majelis zikir dedaunan
jadi padang api
ranggas
sunyi doa

munazat rimba ditebas  penebang
enggan tanam
tak ganti doa mereka
alam murka
tak kuasa tolak bala nestapa
 
ketika bencana tiba, ranting kering berkata:
“maaf! kami tak lagi  mampu merayu Tuhan
lantaran doa kami terbakar bersama abu dedaunan”



Bogor, September 2009

PROFIL ASRIZAL NUR


Di puisi bermula sebagai Deklamator, Juara Provinsi Riau ( 1990),      Juara se Sumatra (1993) Juara Nasional Piala HB Jassin (1996).
 Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler dan    kolosal, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan  : Tari, Teater, Musik, audiovisual, diberi nama nama Konser puisi Multimedia Asrizal Nur.

                Diundang membaca dalam berbagai sastra penting, antara lain : Pembacaan Sajak Melayu Asia Tenggara di Kepri (2006), Baca Sajak Jalan Bersama di TIM (2006), Baca Sajak Panggung Apresiasi Sutardji Calzcoum Bachri di TIM ( 2007), Baca Sajak Panggung Apresiasi Temu Sastrwan se Indonesia di Jambi (2008), Baca Sajak 100 Tahun kebangkitan Nasional di Wapres.Bulungan Jakarta (2008), Baca Sajak Internasional di JILFEST, Jakarta (2008) Membaca Puisi Poritugal, Indonesia, Malaysia di Universitas Indonesia (2009). Baca puisi Radio Televisi Brunei Darussalam pada Pertemuan Penyair Nusantara IV (2010) . Membacakan puisi dan pemutaran Video Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010), Sebagai pembimbing/pengajar Bengkel Pelestarian Budaya Melayu di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010). Konseptor, Sutradara Teaterrikal Puisi Islam Multimedia di Radio Televisi Brunei (2010). Baca Puisi pada Malam puncak Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang (2010). Pencipta nama dan bersama Tusiran Suseno Menggagas Tarung Penyair Panggung se Asia Tenggara 2011, Baca Puisi di Panggung Puisi Multimedia Pertemuan Penyair Nusantara di Palembang 2011, Pembacaan Puisi Kebangsaan di gedung Nusantara MPR RI (2011), Pembacaan Puisi Internasional di Jakarta Internasional Literary Festival – JILFEST (2011), Baca Puisi di Hankuk University dan Kota Hansan Korea Selatan ( 1-3 Juni 20012), ), Baca Puisi Malam Puncak Dialok Teluk Brunei di UBD (11 Juli 2012), Baca Puisi di Sekolah Menengah Yayasan Hasanal Bolkiah Brunei Darussalam (18 Juli 2012),   aktif juga baca puisi pada bengkel sastra di berbabagai daerah di Indonesia bersama Badan Bahasa, di hadapan ribuan buruh di GOR Bandung (2012), Baca Puisi Pada Kongres Bahasa(2013), Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur dalam rangka Hari Pohon se-dunia di Pekanbaru (2013), Konser Puisi Multmedia Asrizal Nur di Yogyakarta (2013)
Puisinya dimuat diberbagai media nasional dan daerah. bukunya telah terbit : Dalam Kotak Debu (kumpulan puisi untuk buruh, 1998), Perlawanan Orang Kotak Debu (Kumpulan puisi, 2005) dan Percakapan Pohon dan Penebang (YPM, 2009) dan termuat dalam beberapa antologi puisi antara lain : Kumpulan Sastra Sagang (1996), Kolaborasi Nusantara (Antologi puisi bersama, 2006), Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), 100 tahun Kebangkitan Nasional ( 2008), Gong Bolong (2008), Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (2008), Kumpulan Puisi Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V (2011),  Kumpulan Puisi dan Cerpen Internasional Jilfest (2011) dan Puisi-puisinya pernah di bicarakan di Univeritas Indonesia (2010) dan Dibahas oleh Kritikus Sastra Maman S Mahayana  dalam beberapa tulisan.
Disamping menulis dan membaca puisi, kini mengorganiser budaya di Yayasan Panggung Melayu.Kegiatan budaya yang paling fenomema melaksanakan Pekan Presiden Penyair Internasional 2007, Festival Penyanyi Zapin se Indonesia 2008, Festival Pantun se Asia Tenggara (2008), menciptakan naskah dan menyutradarai Opera Pantun di Taman Ismail Marzuki (2008). Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur (TIM. 2009), Deklarasi Hari Puisi Indonesia di Pekanbaru (2012), Penyelanggara Pekan  Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki (2013) Salah Seorang pelopor Deklarasi Hari Puisi Indonesia (Des, 2012)

Atas dedikasinya terhadap budaya Melayu mendapat Anugerah Sagang pada kategori Seniman serantau tahun 2007.