Tampilkan postingan dengan label Tip Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tip Menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2014

PUISI, INSPIRASI DAN KUFUR NIKMAT YANG SAMAR

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Hukum dasar Inspirasi
Surat al-alaq ayat 1-5 dan surat al-qalam ayat 1-2 atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat dalam pergantian siang dan malam. Atau firman Allah dalam penciptaan langit dan bumi beserta isinya dalam enam masa. Atau surat Al-Ashr ayat 1-5.

Saya teringat ketika membaca puisi spontan di Al-Izzah Islamic Boarding School Batu Jawa Timur. Ketika itu yang jadi pemateri kepenulisan Pipiet Senja dan Abrar Rifai sementara saya di bidang puisi saja.

Mengumpul segenap yang kita lihat dan diungkap lagi dalam bentuk pengucapan, itulah yang saya lakukan.

Lantas ada yang bertanya tentang inspirasi, karena merasa kesulitan dalam menulis. Sejenak saya tertegun, mengumpulkan segala ingatan yang barangkali ada yang terlupakan. Saya mulai menatap satu persatu wajah yang begitu riang belajar. Begitu semangat mendapatkan ilmu yang mungkin baru bagi mereka. Mungkin pula ilmu itu telah mereka dapatkan hanya untuk dicocokkan.

Berhadapan dengan peserta workshop yang kesemuanya perempuan jika tidak memiliki mental dan konsentrasi maka apa yang akan kita sampaikan akan menjadi tak beraturan.

Tak ada yang tidak mungkin selama kita berpikir bisa maka Allah akan melapangkan segala.

Sejatinya inspirasi sangat dekat dengan kita dan kitalah yang membuat jarak serta mencipta alasan-alasan untuk tegak di jalur aman.

Ketika kita melihat daun yang jatuh sejatinya kita telah menemukan inspirasi, tinggal kita kaitkan dengan apa saja sesuai keinginan kita.

Mungkin peristiwa daun jatuh adalah peristiwa yang biasa bagi khalayak umum. Namun bagi penulis bisa menjadi suatu hal luar biasa untuk diperkenalkan ke dalam tulisan baik berupa cerpen, puisi maupun novel.

Lalu bagaimana dengan penyair menyikapi daun jatuh maka diperkenalkan dengan sangat puitik, ianya dikaitkan dengan kematian. Ianya bisa dikaitkan dengan musnahnya suatu generasi dan penyambung generasi yang baru.

Daun yang jatuh selain dijadikan guru dalam mengasah kepekaan batin, menjadi media untuk menyadarkan diri bahwa segala yang kita miliki sejatinya hanya titipan yang lambat laun akan hilang dari genggaman.

Warna daun bisa menjadi lambang perubahan usia, serat-serat yang ada dalam daun bisa dikaitkan dengan indahnya persatuan, indahnya keakraban.

Menceritakan daun yang kita saksikan saja telah membuka jalan dari sebuah kemisterian yang ada di dalam yang tampak untuk mengurai yang tak tampak.

Berkenalan dengan daun saja, betapa banyak pelajaran hidup yang bisa didapat dan diceritakan.

Mencipta jarak dengan inspirasi hanya menjadi jalan untuk semakin lumpuhnya gairah menulis.

Berikut akan saya hadirkan ragam inspirasi yang terkandung dalam daun, dalam bentuk puisi dalam ragam tema.

daun-daun usia berguguran
mengecup kening kematian

atau bisa juga tema persahabatan

dedaun pengertian bersalaman
menepikan keraguan

atau tema yang lain

hijau daunmu
hijau pula hatiku

sebuah penggambaran akan adanya generasi baru, semangat baru dalam menerjemahkan kehidupan.

Atau bertema penyesalan

ketika daun usiamu menguning
kau pun terasing

sebuah potret tentang keterkenalan hidup manusia akan memudar beriring perubahan waktu. Kebanggaan pada ketampanan atau kecantikan pada akhirnya membuat terasing bahkan bagi dirinya sendiri.

Atau tema perjuangan

daun-daun pengabdian
telah memalingkan mata ragu
dari tubuh zaman
berlarian kegelisahan
bertamu kebahagiaan.

Hanya dengan menyaksikan daun ragam inspirasi bisa dihadirkan terlebih menatap alam semesta. Terlebih mengurai karuniaNya tentulah takkan pernah mampu.

Penyebab Hilangnya Inspirasi

Menganggap menulis sebagai beban hanya membuat batin tersiksa dan menjadi awal penyebab hilangnya inspirasi.

Adalah watak dasar manusia pandai mencari alasan demi alasan untuk mencari pembenaran atas segala yang tak ingin dilakukan.

Rutinitas harian menjadi alasan terkuat untuk tidak menulis, untuk mencari pembenaran kalau inspirasi sangat sulit didapat. Padahal dalam pekerjaan yang super sibuk sejatinya inspirasi itu tetap ada. Tetap akrab menyapa kita.

Pekerjaan juga menjadi sumber alasan terkuat atas seseorang membuat jarak dengan inspirasi. Padahal jika kita menikmati kita bisa menjadikan bahan untuk menulis.

Sejatinya inspirasi itu bergantung cara kita menyikapi kehadirannya. Mau dijadikan kawan atau lawan.

Meniadakan inspirasi merupakan bentuk kekufuran nikmat yang sangat samar, sebab ianya menjadikan diri kita tidak peka.

Sebagai solusi kufur nikmat atau mengingkari adanya inspirasi di sekitar kita, ada baiknya saya kutip nasehat Alm. KH. Moh. Idris Jauhari yang saya kira sangat relevan dengan pembahasan ini.

Cara bersyukur seorang penulis yakni dengan menulis.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, demikian yang bisa saya uraikan, tulisan ini jauh dari kesempurnaan sebab kesempurnaan hanya milik Allah.

Kamar Cinta, 19 September 2014

Kamis, 18 September 2014

KEHILANGAN ROBIN, BATMAN MENEBAR JEBAKAN DI GRUP PUISI 2, 7

“Anggaplah seorang pengendara motor yang melaju kencang, dan jalan di depannya ada lubang, maka tak pelak, jatuhlah dia. Atau bayangkan anak-anak yang tengah bermain kejar-kejaran di sebuah sawah yang habis panen, karena berlari kencang dan tidak hati-hati, salah satu dari mereka mengaduh karena terperosok jebakan celeng atau kakinya terjepit perangkap tikus.” Kurang lebih seperti itulah penggambaran saya tentang  istilah saya pribadi “Jebakan Batman” yang saya pergunakan saat berinteraksi dengan sahabat grup atau penyuka puisi 2,7 biar terasa santai namun dalam batas tetap serius pada permasalahan kekaryaan pola tuang 2,7.


Saat saya memberikan apresiasi pada suatu karya puisi pendek pola tuang 2,7, dan jika secara subyektif di rasa baca dan imaji pikir saya,  gaya pengungkapan puisi terkait tersebut terasa datar baca, dan hanya terbaca sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea, gagasan/tema, layaknya sebuah pernyataan dengan gaya pengucapan keumumman, serupa penulisan berita, atau juga serupa dengan gaya penulisan slogan, dalam artian tidak ada keluasan ruang makna lebih yang dapat ditawarkan dari susunan diksi/kata tertuang.

Selintas tentang Jebakan Batman dan fenomena ketergesaan penyair/pemuisi 2,7 dalam memosting karyanya, prof. Cunong Nunuk Suraja pada catatan tepinya yang bertajuk “SATU JAM YANG LALU JARING GRUP PUISI DUKOTU MENANGKAP TUJUH PEMUISI DELAPAN PUISI”, dengan sedikit canda menulis:

“…dalam esai tuan Imron Tohari sebagai menderas dengan cenderung terperosok pada jebakan batman. Entah jebakannya seperti apa karena tak pernah ditemukan Robin teman Batman memasang jebakan. Jebakan bum mungkinkah menjadikan sandungan pengunci sajak tujuh kata ini? Ini hal yang selalu mengharu-biru selain kepatuhan pada pola tuang dan juga kemahiran mengolahi maji jadi bum serta menahan deras langkah diksi.”

Istilah “Jebakan Batman” kalau dicari diKBBI, apalagi dalam istilah-istilah baku sastra, sememangnya tidak akan pernah ditemukan, ini memang saya maksudkan sebagai hal untuk menerangjelaskan ketertautan larik 1 dan 2 yang terasa laju menderas, cenderung cair/atau encer dalam memaparkan idea gagasan secara estetik puitika. Intinya, suatu istilah yang saya tujukan seperti sudah diterangjelaskan di atas, yang dipetakan dalam2 (dua) larik 7 (tujuh) kata saja.

Jadi sekali lagi saya tekankan di sini,bahwa istilah jebakan batman atau laju menderas itu merupakan perumpamaan yang saya buat  sendiri untuk keperluan interaksi komunikatif terkait dengan keindahan puitika pada puisi pendek pola tuang 2,7.  Laju menderas masihlah bisa ditolerir sejauh secara keseluruhan puisi masih menawarkan nilai kontemplasi. hanya saja kenyataan yang saya dapati  pada postingan puisi 2,7 selama ini, puisiyang terkena jebakan batman, istilah yang saya ciptakan sendiri tersebut,kecenderungannya justru tidak optimal dalam menampil hadirkan estetika puitik (keindahan bahasa puisi menciptakan keluasan ruang imaji) pun estetika makna (Keindahan bahasa dalam menyampaikan tema/amanat—menciptakan keluasan ruang kontempelasi) sehingga sangat berpotensi mengurangi daya letup, daya kejut, atau “bum” yang merupakan salah satu inti kekuatan utama pada pola tuang puisi 2koma7 ini.

Adapun puisi 2,7 yang saya maksudkan dengan istilah laju menderas atau terkena jebakan batman, saya pribadi mencirikannya sebagai berikut:

1.        Citraan yang ditampakkan oleh susunan kata dengan kata lainnya pada larik 1 belum tuntas, belum selesai, masih ngambang, dalam artian memerlukan larik 2 untuk menuntaskan serta menciptakan kesan kuat pernyataan yang menawarkan keluasan ruang imaji pada citraan utuh yang dibangun larik1. Atau bisa dikatakan gaya pengungkapannya terkesan hanya sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea/gagasan.pada citraan utuh yang dibangun larik 1. Atau bisa dikatakan gaya pengungkapannya terkesan hanya sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea/gagasan.

2.        Terkait poin 1 di atas, judul juga tidak mampu memberi korespondensi  yang menguatkan pernyataan larik 1 dalam membangun keluasan ruang imaji penghayat.

3.        Larik 2 saat berdiri sendiri pun dipadupadankan dengan judul, selain datar baca, makna yang dihantarkan ke permukaan, terasa hanya sebagai penyampai pesan saja, tidak lebih.

4.        Peran larik 2 sebagai larik eksekusi atau larik eksistensi, secara korespondensi dengan larik 1, terkesan hanya sebatas menerangkan atau sebatas memperjelas bangun citraan larik sebelumnya saja. Kekuatan “Bum” sebagai letupan emosi/keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, dll) yang diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam (kontempelasi) tidak terhadirkan dengan optimal.

5.         Secara keseluruhan bangunan utuh perwajahan puisi, gaya pengungkapan terasa datar baca, dan hanya terbaca sebagai penyampai pesan biasa saja dari idea, gagasan/tema, layaknya sebuah pernyataan dengan gaya pengucapan keumumman, serupa penulisan berita, atau juga serupa dengan gaya penulisan slogan, dalam artian kurang ada (kalau tidak bisa dikatakan “tidak ada”) keluasan ruang makna lebih yang dapat ditawarkan dari susunan diksi/kata tertuang.


Beberapa contoh puisi 2,7 yang dimungkinkan terkena jebakan batman.



1.         OBSESI

            terjerat jemari obsesi
           mencengkeram segenap jiwa raga


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


2.         TEMU

            adakah temu
            yang jumpa pada ketidak pastian


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


3.         KEMBALI

           dia datang kembali
           hadirkan mimpi, menoreh illusi


          Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


4.         MIMPI

           adakah cerita ini
           cuma sepenggal episode mimpi


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari 2013


5.         KELUH

            air mata runtuh
            menyelinap di balik keluh


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


6.         TAK SANGGUP

            jiwamu nanar
           tak sanggup membedakan salah-benar


           Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013
           Pada puisi ini malah terhitung 6 kata, dengan perekatan kata /salah-benar/


7.         KORUPSI

           Negara ini begitu bobrok
           Basmi! tikus-tikus negara

           lifespirit, 2 januari 2014


8.         KONDOM 

           Membagi-bagikan kondom berdalih  ini-itu
           Moral bangsa dipertaruhkan

           lifespirit, 2 January 2014


9.         DEBAR CINTA

            Jantungku berdebar kencang
            Saat menatap bening matamu

            lifespirit, 2 January 2014


10.       ENGKAU KUCINTA ENGKAU KHIANATIKU

            Mengapa kautega khianatiku
            Padahal aku sangat mencintaimu

            lifespirit, 2 January 2014


11.       DI MATAMU YANG SEDIH

            Kutatap redup bola matamu
            Dan hatiku membasah

            lifespirit, 31 Agustus 2014


12.       KELUH

            Aku sudah banyak berdoa padaNya
            Kenapa begini?

            lifespirit, 31 Agustus 2014


13.       CINTA TERKUNGKUNG SEKAT

             Kumelihatmu seperti merpati 
             Di dalam sangkar emas

             lifespirit, 5 September 2014


14.       GELOMBANG ASMARA

            cinta dan kasmaran, aku
            lalu menemuimu, mendekapmu

            lifespirit, 5 September 2014


15.       PADAMU ‘KU BERTOBAT

            ‘Kan kulebur dosa-dosaku agar berumah
            Di syurga

            lifespirit, 5 September 2014



Dari 15 puisi pola tuang 2,7 yang dicontohkan di atas, selain terasa laju menderas, encer, pun jika dicermati, secara keseluruhan puisi tidak menawarkan keluasan imaji dan juga keluasan ruang kontempelasi (nilai kontemplasi. )

Bandingkan dengan 10 puisi di bawah ini, yang sebenarnya mempunyai tingkat kecenderungan tinggi terkena jebakan batman, namun, ketepatan dalam memanfaatkan tekhnik typografipoetika, enjambemen, dan pilihan diksi yang cukup baik,  telah mampu menahan laju menderas, mampu menampakkan simbol puitik, kias, pun imaji dalam menjaga keutuhan citraan suasana yang menjadi peran penting larik 1 (satu), dan juga mampu menghadir fungsikan larik 2 (dua) sebagai larik eksekusi yang sarat muatan emosi, pysycologis, dan permenungan (kontempelasi).

Namun sebelum kita membandingkannya (terutama pada puisi yang sama-sama ada kata hubung “di”), terlebih dulu akan saya paparkan hal-hal yang berkaitan dengan puisi 2,7 yang sebenarnya berpotensi tinggi terkena jebakan batman, namun dengan memahami tata sastra terkait gaya pengungkapan puisi yang baik, maka puisi tersebut akan mampu mengurangi laju menderas yang timbul, atau bahkan mampu menghidari jebakan batman yang saya istilahkan tersebut dengan baik, yang saya cirikan sebagai berikut:

1.         Citraan yang ditampakkan oleh susunan kata dengan kata lainnya pada larik 1 sudah tuntas, atau bisa juga dianggap sudah selesai, dalam artian mampu berdiri sendiri walau seandainya tanpa  didukung oleh keberadaan larik 2 untuk menuntaskan serta memperoleh keindahan makna (Keindahan bahasa dalam menyampaikan tema/amanat—menciptakan keluasan ruang kontempelasi)   pada citraan utuh yang dibangun larik 1.

2.        Terkait poin 1 di atas,  saat judul ditarik masuk ke dalam, citraan suasana yang telah terbentuk di larik satu kian menjadi kuat ruang imaji yang ditawarkan ke penghayat (hal ini biasanya terkait dengan kemampuan penyair dalam megoptimalkan tekhnik typografipoetika dan enjambemen dengan tepat).

3.        Demikian pula pada larik 2, tanpa atau bahkan mungkin dengan adanya kata penghubung, semisal:  di, ke, dan, yang, dengan, lalu, dll, saat berdiri sendiri, susunan kata dengan kata lainnya tetap mampu memerankan fungsilarik dua sebagai larik eksekusi, larik yang mampu menawarkan nilai kontempelasi dengan baik, walau seandainya tanpa terkait paut dengan larik satu sekalipun.

4.        Saat judul dan larik satu masuk untuk bersenyawa dengan larik 2, menjadikan susunan kata dengan kata lainnya dalam larik 2 tersebut kian bernas, kian hidup, kian memberi nilai tambah keluasan ruang renung, ruang kontempelasi, dan atau korespondensi antar larikdan judul tidak menjadikannya renggang, namun justru kian memberi kesan kuat diolah rasa, olah imaji, olah pikir penghayat.


5.         Typografipoetika dan enjambemen yang dimanfaatkan dengan tepat, akan memberi pengayaan secara keseluruhan perwajahan puisi, sehingga gaya pengungkapan minimal akan memenuhi  ciri-ciri yang tergambarkan pada poin 1 sampai dengan poin 4 di atas, dan bisa saya katakan puisi pola tuang 2,7 termaksud telah mampu meredam, bahkan memungkinkan untuk menetralisir seminim mungkin adanya jebakan batman.


Beberapa contoh puisi 2,7 yang menurut saya pribadi gaya pengungkapannya mampu meredam jebakan batman:


1.         MENCINTAIMU

            Kubiarkan mataku menggali kubur
            Dengan huruf huruf


            lifespirit, rev 24 Des 2012


2.         TENTANG KEYAKINAN

            Beribu jalan beribu semak
            Dan aku merindukanmu

            lifespirit, 24 December 2012



3.         KARANG

           Sebongkah karang membaca sepi
           Di lautMu tenggelam

           lifespirit, 25 Desember 2012


4.         MENYEMESTA II

            pada mulanya gaduh
           dalam ning, siapa debur?


           lifespirit, 30 Desember 2012


5.         KAU LEBIH DARI SEKEDAR PUISI

            sebaris kata-kata mengalir, nama-Mu
           di waktu subuh


           lifespirit 3 Januari 2013
           Inspiring Alfiah Muntaz


6.         HABIS PISAH

            terbelah jarak kembali bersua
           di matamu, tenggelam

           lifespirit, 6 Januari 2013


7.         RINDU MALAM

            malam kelam
            tersimpan sebongkah rindu yang dalam


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


8.         NOSTALGIA

            bayu masa silam
            melarung jiwaku hingga tenggelam


            Sagitta detrawina, Lampung 10 Januari2013


9.         SEPI

           Sepasang kursi tua
           Mengkhatamkan waktu tanpa bicara


           Djuhardi Basri, Kotabumi, 13122013



10.       KUNANG-KUNANG

           gelap dan sendiri
           di tapal batas hidup


           Bintang Kartika, september, 2014



11.     MENEMUKAN KHUSYU' YANG HILANG 

          di sana-sini. Tak
          di dalam, Allahu Akbar

          Denting Kemuning, 140914

Puisi ini bagus, kesederhanaan ungkap serta pemadatan kata berhasil baik memikul beban tema refleksi kerohanian aku lirik.

Enjambemen pada diksi /Tak/, menjadikan keberadaan kata /di dalam/ pada larik dua memunculkan ambiguitas yang dalam, yang menusuk jauh ke dalam batin hayatan. Selain itu, /di/ yang sering menjadi alibi terkena jebakan Batman jika diletakkan pada awal larik, maka pada puisi / MENEMUKAN KHUSYU' YANG HILANG /, diksi /di/ yang ada diawal kedua larik puisi ini juga berhasil terhindar dari jebakan Batman, dan ini sesuai dengan yang dicirikan di atas (Baca:  hal-hal yang berkaitan dengan puisi 2,7 yang sebenarnya berpotensi tinggi terkena jebakan batman).

Ketepatan penggunaan tekhnik enjambemen, saya selaku penikmat baca di dorong masuk untuk merenungi pertautan dan atau korespondensi dari kata /Tak/ yang terenjambemen tersebut, saat di mana /Tak/ menjadikan dirinya bahasa yang diam,

Tak
di dalam, Allahu Akbar


Saya mengambil artikannya seperti ini (ctt: diksi /Tak/ tetap terkait kata sebelumnya yang tidak saya tampakkan di sini), tidak di luar (sana-sini; di mana-mana), namun ada di dalam diri, di dalam hati, di dalam keyakinan spiritual, Allah Maha besar.

Dan manakala /Tak/ yang menjadikan dirinya bahasa yang menjulur masuk bersenyawa dengan kata dalam larik berikutnya.

Tak di dalam, Allahu Akbar

Pada bahasa /Tak/ yang masih bergerak menjulurkan dirinya ke larik berikutnya, hayatan saya sontak serasa dibetot dengan permenungan yang dalam, betapa sesungguhnya keimanan itu tidak ada di luar pun di dalam semata, namun hakikat esensi tersebut terletak pada kualitas ketawadukan, kekhusyukan kita pada Kebesaran Allah SWT.


Pernah terlintas dipikiran saya : “lalu bagaimana kalau yang terpenuhi hanya fisik puisi saja, dalam pengertian yang terpenuhi hanya 2 baris, 7 kata-nya saja? Apa masih bisa disebut sebagai puisi pola tuang 2,7 (baca: 2 baris, 7 kata) ?”

Jika nilai ukurnya adalah baris dan kata, maka hal tersebut telah memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam puisi 2,7 (Selanjutnya baca: 2 baris, 7 kata), namun untuk disebut sebagai puisi 2,7 yang memenuhi semua syarat: baik jumlah baris, kata, serta kekuatan estetik bahasa dan estetik makna (baca: keluasan ruang imaji) yang merupakan prasyarat wajib  untuk suatu karya 2,7 layak disebut puisi memuisi atau hanya setara dengan slogan/pernyataan, tentunya perlu juga diperhatikan prasyarat lain yang menyerta pada desain pola tuang 2,7 ini ( Seperti diterangjelaskan tulisan di atas ).

Dalam bercipta karya Puisi 2, 7 (2 baris, 7 kata) ini, kalau tidak hati-hati dan hanya terangsang untuk nulis nulis nulis tanpa diimbangi pengontrolan emosi yang terus nyundul mendorong untuk bersegera jadi, maka hasilnya hanya akan sekedar fisiknya saja yang 2, 7 . Dan kalau tidak hati-hati dalam menyampaikan bahasa ungkap, maka akan seperti puisi yang tersirat pada puisi sarat pesan satire karya Alfiah Muntaz di bawah ini :

DEVIASI 

diksi-diksi ejakulasi dini
jauh puisi dari orgasme

(Alfiah Muntaz, 10 Januari 2013, Bangka)

Lalu bagaimana agar puisi pola tuang 2,7 yang dibuat terhindar dari jebakan batman?

Emotion Quality Control (EQC) sangat berperan penting dalam konteks ini, sehingga dalam proses penciptaan puisi 2,7 tidak terlepas dari 10 pokok dasar penciptaan sebuah karya puisi, yang saya tulis di bawah ini:

1.     Penuhi prasyarat mutlak struktur puisi dalam 2 baris, 7 kata, dan penanda akhir puisi (tanggal pembuatan/titimangsa; berfungsi sebagai rekam jejak kekaryaan)

2.     Kekuatan estetik bahasa dan makna judul upayakan bersenyawa (menjadi padu/menjadi satu benar) dengan isi.

3.     Jangan terburu-buru posting, baca sekali lagi dengan memposisikan sebagai penikmat baca, agar bisa merasakan apakah ekspresi/ Penjiwaan karya sudah sesuai yang diharapkan penulis yang sekaligus selaku penghayat.

4.     Upayakan pemilihan diksi sebisa mungkin bertaut dengan diksi lainnya secara utuh memberi citraan latar suasana baris 1.

5.     Hal tak kalah penting: Tipografipoetika/ pemetaan kata/ enjambemen baris1 ke baris 2 yang baik akan menjadikan karya puisi 2, 7 aliran perpindahan antar baris tidak melaju terlalu cepat sehingga karya tidak datar baca ( kalau tidak boleh dikatakan datar atau serupa pernyataan, cerita, ungkapan yang biasa saja), tipografipoetika/ pemetaan kata/ enjambemen yang baik akan memberi nilai tambah pada keluasan ruang rasa imaji pikir penghayat/penikmat baca.

6.     Perhatikan keselarasan/ kesenyawaan baris 2 dalam upayanya meletupkan rasa imaji citraan baris 1.

7.     Kunci penting berhasil tidaknya puisi 2, 7 dalam memberikan nilai pikir kekinian di rasa imaji penghayat, adalah seberapa kuat pengkarya cipta memberi denyut/nilai kejut/daya hisap kontemplasi/ rangsangan emosional yang diletupkan baris 2.

8.     Setelah puisi 2, 7 jadi, proses pengendapan dengan cara membaca ulang dan meresapi sepenuh rasa jiwa, pengkarya cipta akan bisa merasakan apakah karyanya tadi sudah mempunyai nilai puitik/ keindahan/ estetik bahasa secara keseluruhan dari batang tubuh puisi secara utuh.

9.     Sebelum dipublish, kaji sekali lagi apakah makna tersurat keseluruhan batang tubuh puisi sesuai dengan yang diharapkan.

10. Sebelum dipublish, kaji sekali lagi apakah makna tersirat keseluruhan batang tubuh puisi memberi nilai pengayaan makna/tafsir pada penikmat baca/ penghayat .


Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi para penyuka dan pencinta puisi pola tuang 2koma7.


(lifespirit, 31 Agustus 2014)

TEKNIK MENULIS PUISI

Oleh. Moh. Ghufron Cholid

Puisi jalan alternatif membidik diri, menajamkan kepekaan dan memulihkan keakraban. Puisi juga menjadi jalan mengenalkan sejarah dengan segenap laju degupnya pada generasi mendatang, yang belum sempat berpapasan dengan penyairnya dan belum sempat jadi saksi mata atas sejarah. Moh. Ghufron Cholid

Pendahuluan
Meski penghormatan terhadap puisi, secara finansial tak terlalu menggembirakan dibandingkan karya sastra lain seperti cerpen dan novel, puisi akan terus tumbuh subur baik untuk ditulis maupun dibacakan, dalam acara-acara bergengsi. Baik dalam memperingati hari kemerdekaan maupun hari besar agama dan kegiatan akhir tahun pesantren.

Minat pada puisi tak pernah sepi, kendati minat membeli buku puisi sangat memprihatinkan. Namun puisi selalu tampil memukau, dan selalu melahirkan sudut pandang baru bagi pembacanya.

Apresiasi atas tumbuh suburnya puisi harus kita syukuri seraya terus meningkatkan mutu karya. Berbicara mutu tentu tak bisa dipisahkan dari pilihan-pilihan yang disodorkan oleh penyairnya, tentang apa yang ingin dikedepankan. Amanat pesan atau keindahan bahasa maupun perpaduan dari kedua metode, yang tentunya punya kelebihan dan kekurangan berikut hambatan dalam pembuatannya.

Jika amanat pesan yang diutamakan, keindahan bahasa diletakkan di posisi kedua maka yang dialami adalah maksud mudah ditangkap. Pembaca tak perlu membaca berulang-ulang untuk memahaminya. Kelebihannya terletak pada pesan yang terang benderang, kekurangannya ada pada kekeringan jauh dari kesan berindah-indah.

Berikut saya hadirkan contoh yang ada di bait akhir puisi Lily Siti Multatuliana yang memakai teknik mendahulukan amanat pesan daripada memperindah bahasa.

...
Senja menjelang
Malampun datang
Aku bersujud dan berkalam
CintaMu KasihMu yang abadi
Kunikmati tiada henti

(bait akhir puisi RAHMAT-MU karya Lily Siti Multatuliana dalam buku Menyirat Cinta Haqiqi, halaman 131)

Lily mengungkap suatu yang lumrah dengan terang menderang yang intinya ingin menerangkan cinta dan kasih Allah itu abadi. Jadi puisi ini lebih menjurus pada upaya mengenalkan pada manusia bahwa yang abadi hanya cinta dan kasih Allah yang lain sifatnya tidak kekal.

Teknik yang memilih keindahan berbahasa diletakkan diporsi utama dan menomor duakan amanat pesan, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan kerja ekstra yakni

BUHUL NUMERA KEMALA
HAZWAN ARIFF HAKIMI

bulan cedera dalam buhul kecubung ungu
brunei mengepung bulan bruneinya
filipina mengepung bulan filipinanya
indonesia mengepung bulan indonesianya
malaysia mengepung bulan malaysianya
(melayu mana mengepung bulan melayunya?)
naga eropa telahpun meretas urna bulan, mencolok,
darah hanyir, menetas lidah penyair, puisi-puisi melayu tertancap, bersayap bung hatta, bung karno, burhanuddin al-helmy, pak sako ke guruh numera
malam luruh membalut jantung bulan luka
pending di dadanya menggoncang
atmosfer visioner mengerongsang
bulan jendera dalam buhul numera kemala-Mu.

Agaknya Hazwan telah memilih langkah untuk memperkenalkan puisinya dengan bahasa yang indah, mengakrabi maknanya haruslah bersabar dan berulang-ulang membaca puisi Hazwan penyair dari Malaysia ini.

Sementara puisi yang memadukan antara amanat pesan dan keindahan bahasa namun tak menyulitkan pembacanya dalam menangkap segala isyarat yang ada, berikut saya hadirkan puisi ATAMINI, GADIS KECIL ITU karya Syarifuddin Ariffin, di bait akhir puisinya ia menulis, gadis kecil yang membatukan hati itu/menderaskan airmatanya/menyirami tanah di sepanjang Gaza/di kuburan massal tanah empedu/darah menyuburkan tanah/tunas-tunas bangsa sepanjang masa.

Dari bait penutup puisi Syarifuddin kita temukan perpaduan antara amanat pesan dan keindahan bahasa secara seimbang. Ianya hadir dengan amanat pesan yang mudah ditangkap di sisi lain ada keindahan bahasa yang ditampilkan yakni pemakaian, membatukan hati, tanah empedu atau darah menyuburkan tanah.

Simbol untuk menunjukkan adanya duka telah ditempatkan sesuai porsinya.

Kesimpulan
Paling tidak dalam menulis puisi ada tiga teknik yang bisa ditempuh oleh tiap penyair yakni 1) mengedepankan amanat pesan dan mengabaikan keindahan bahasa 2) mengedepankan keindahan bahasa dibanding amanat pesan sehingga untuk menemukan intisari dari sebuah puisi diperlukan pembacaan berulang-ulang 3) memadukan amanat pesan dan keindahan bahasa, untuk teknik ketiga bisa ditemukan di puisi lain seperti Aku Ingin karya Sapardi atau Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM.

Semoga catatan tentang teknik menulis puisi meski sedikit ada kemanfaatan di dalamnya. Salam persahabatan dan salam karya dari tanah Sakera penuh cinta, Madura.

Madura, 18 September 2014