Tampilkan postingan dengan label esai apresiatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai apresiatif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

MENERAPKAN KONSEP AL-QUR'AN DALAM PUISI

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Novy Noorhayati Syahfida
SURAT DARI PESISIR
bagaimana kabarmu?
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku
memuara pada palung takdir nan piatu
sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu
menghapus namaku dari ceruk hatimu
Tangerang, 25 Juni 2015 (E)



SURAT DARI PESISIR, kata Novy memulai polemik tentang kehidupan yang mulai di anak tirikan. Kehidupan pesisir yang perlahan mulai dilupakan oleh sebab itu surat dari pesisir dibuat untuk tiap hati sekedar mengingatkan bahwa kehidupan pesisir bukan kehidupan nisbi, ia nyata dan kasat mata.

Surat dari pesisir, Novy mulai mengajukan kesepian dan hidup yang mulai diabaikan tentang nasib yang seharusnya mendapatkan hak yang sama untuk hidup bahagia. Mendapat pendidikan yang layak agar bisa memperbaiki nasib.

Baris awal mulai ada kegelisahan atau bisa pula sapaan untuk menyambung keakraban yang telah lama terputus. bagaimana kabarmu? kata Novy, untuk memulai ikatan batin agar jarak dan tatap mata yang sudah tak tercipta atau sudah merenggut keakraban bisa disambung lagi.

Menanyakan kabar adalah upaya memulai komunikasi yang baik di antara dua hati atau antara orang yang berada di pesisir kepada keturunannya yang telah merantau dan menjadi orang penting di tanah rantaunya.

Pertanyaan deperti ini sangat efektif dijadikan sebuah pembuka komunikasi sebab ianya bisa menjadi jalan yang dapat menghapus jarak yang begitu penuh sekat.

Pertanyaan bagaimana kabarmu lebih pada menanyakan bagaimana cara seseorang menjalani hidup. Bagaimana kabarmu adalah pertanyaan yang lebih filosofis daripada apa kabar kendati keduanya sama-sama menanyakan kabar.

Apa kabar? adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban yang rumit tinggal langsung menjawab kabar baik sebab ianya tidak berkaitan dengan seni bagaimana seseorang menjalani hidup.

tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku/ baris kedua semacam tuntutan yang diajukan aku lirik (orang pesisir) kepada seseorang di tanah rantau yang berasal dari pesisir atau kepada orang penting yang pernah datang ke pesisir untuk mencari dukungan teruntuk dinobatkan publik untuk menjadi orang penting dengan segala janji yang pernah disampaikan sebagai pemanis yang pada akhirnya menjadi jalan untuk jadi orang penting.

Barangkali ketabahan yang mulai menipis atau ketakinginan berada dalam situasi derba ragu yang membuat aku lirik menegaskan kemirisan hidup untuk segera ditatap 'mu' lirik.
Apa yang dilakukan Novy adalah metode mengingatkan tiap diri akan suatu hal yang penting dalam al-qur'an semacam ini banyak ditemukan untuk mengingatkan manusia untuk lebih mengenal alam sekitar semisal (أفلا تتذكرون، أفلاتتدبرون، أفلاتعقلون) dan lain sebagainya. Kata tidakkah kau lihat paling tidak untuk mengingatkan akan hal penting yang pernah dialami sebagai bahan renungan agar ianya tak terjadi lagi di masa mendatang.

tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu

Betapa kemelut yang begitu kalut yang dihadapi orang pesisir yang digambarkan, yang disampaikan penuh raungan agar orang yang dianggap penting tak menganak tirikan orang pesisir yang sangat berjasa dalam memberikan kenyamanan hidup.

Pertarungan demi pertarungan yang mewarnai hidup orang pesisir telah disampaikan dengan harapan nasib baik segera datang. Novy menggambarkan ketegaran orang pesisir namun ketegaran ini disampaikan pada khalayak dengan harapan tak menyepelekan orang pesisir. Kendati ketegaran yang dikabarkan ada misi penting yang dibawa supaya generasi muda pesisir tak mengalami pertarungan yang lebih sengit.

Ketegaran yang dimiliki oleh seseorang tentu memiliki batas dan hal inipun diungkap Novy, dengan berucap, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku.

pantai-pantai yang lepas di dadaku adalah gambaran betapa meresahkan hidup berada di pesisir, ianya selalu dipenuhi pertarungan. Ianya selalu dituntut untuk berhati karang, tahan atas segala hantaman gelombang. Namun di sisi lain perlu mengabarkan kepedihan agar yang lain merasa setubuh, seruh. Merasakan derita apa yang diderita orang pesisir agar tiap diri tahu tanpa dukungan orang pesisir, orang kota atau orang yang telah menjadi orang penting penentu kebijakan tentang sejahtera tidaknya orang pesisir bisa merasakan kemelut yang sama.

Mengkhidmati denyut dua baris puisi berikut, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku/memuara pada palung takdir nan piatu/ sama halnya mengkhidmati kegetiran hidup. Ada letup kegelisahan yang begitu karib yang dialami orang pesisir yang pada intinya tak ingin terjadi di masa mendatang.

Novy seakan memahami kegetiran hidup kaum pesisir dan menjadikan puisi sebagai jalan cinta untuk ditempuh sebagai pengobat luka-luka yang terlalu pedih perih.

Benarkah Novy berusaha memperbaiki nasib kaum pesisir? Bukankah yang dilakukan Novy hanya melukiskan betapa tak mengenakkan menjadi orang pesisir yang tiap perubahan detak waktu selalu dituntut untuk menjadi pribadi tangguh agar tak menyerah pada ketakberdayaan. Atau bukankah puisi ini hanya mengandung provokasi yang hanya mengumbar duka kaum pesisir.

Apa yang dilakukan Novy adalah upaya untuk membuat tiap diri semakin peka dengan segala yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dalam hal ini yang dijadikan objek pembahasan kehidupan orang pesisir dengan harapan duka yang dikabarkan di masa kini tak terjadi di masa mendatang.

Inilah ketegasan Novy dalam memperjuangkan nasib orang pesisir, sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu/
menghapus namaku dari ceruk hatimu/ atau bahasa yang lebih mudah dipahami akan aku lakukan apa saja agar kau terus mengingatku.

Dua baris akhir di puisi adalah penanda bahwa untuk meraih kebahagiaan hidup bukan dengan cara menunggu keajaiban turun dari langit melainkan bergerak menjemput kebahagiaan hal ini senada dengan firman Allah, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha mengubah nasib mereka sendiri.

Madura, 26 Juni 2015
Sumber http://www.konfrontasi.com/content/budaya/menerapkan-konsep-al-quran-dalam-puisi
MENERAPKAN KONSEP AL-QUR'AN DALAM PUISI
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Novy Noorhayati Syahfida
SURAT DARI PESISIR
bagaimana kabarmu?
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku
memuara pada palung takdir nan piatu
sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu
menghapus namaku dari ceruk hatimu
Tangerang, 25 Juni 2015 (E)

SURAT DARI PESISIR, kata Novy memulai polemik tentang kehidupan yang mulai di anak tirikan. Kehidupan pesisir yang perlahan mulai dilupakan oleh sebab itu surat dari pesisir dibuat untuk tiap hati sekedar mengingatkan bahwa kehidupan pesisir bukan kehidupan nisbi, ia nyata dan kasat mata.
Surat dari pesisir, Novy mulai mengajukan kesepian dan hidup yang mulai diabaikan tentang nasib yang seharusnya mendapatkan hak yang sama untuk hidup bahagia. Mendapat pendidikan yang layak agar bisa memperbaiki nasib.
Baris awal mulai ada kegelisahan atau bisa pula sapaan untuk menyambung keakraban yang telah lama terputus. bagaimana kabarmu? kata Novy, untuk memulai ikatan batin agar jarak dan tatap mata yang sudah tak tercipta atau sudah merenggut keakraban bisa disambung lagi.
Menanyakan kabar adalah upaya memulai komunikasi yang baik di antara dua hati atau antara orang yang berada di pesisir kepada keturunannya yang telah merantau dan menjadi orang penting di tanah rantaunya.
Pertanyaan deperti ini sangat efektif dijadikan sebuah pembuka komunikasi sebab ianya bisa menjadi jalan yang dapat menghapus jarak yang begitu penuh sekat.
Pertanyaan bagaimana kabarmu lebih pada menanyakan bagaimana cara seseorang menjalani hidup. Bagaimana kabarmu adalah pertanyaan yang lebih filosofis daripada apa kabar kendati keduanya sama-sama menanyakan kabar.
Apa kabar? adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban yang rumit tinggal langsung menjawab kabar baik sebab ianya tidak berkaitan dengan seni bagaimana seseorang menjalani hidup.
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku/ baris kedua semacam tuntutan yang diajukan aku lirik (orang pesisir) kepada seseorang di tanah rantau yang berasal dari pesisir atau kepada orang penting yang pernah datang ke pesisir untuk mencari dukungan teruntuk dinobatkan publik untuk menjadi orang penting dengan segala janji yang pernah disampaikan sebagai pemanis yang pada akhirnya menjadi jalan untuk jadi orang penting.
Barangkali ketabahan yang mulai menipis atau ketakinginan berada dalam situasi derba ragu yang membuat aku lirik menegaskan kemirisan hidup untuk segera ditatap 'mu' lirik.
Apa yang dilakukan Novy adalah metode mengingatkan tiap diri akan suatu hal yang penting dalam al-qur'an semacam ini banyak ditemukan untuk mengingatkan manusia untuk lebih mengenal alam sekitar semisal (أفلا تتذكرون، أفلاتتدبرون، أفلاتعقلون) dan lain sebagainya. Kata tidakkah kau lihat paling tidak untuk mengingatkan akan hal penting yang pernah dialami sebagai bahan renungan agar ianya tak terjadi lagi di masa mendatang.
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
Betapa kemelut yang begitu kalut yang dihadapi orang pesisir yang digambarkan, yang disampaikan penuh raungan agar orang yang dianggap penting tak menganak tirikan orang pesisir yang sangat berjasa dalam memberikan kenyamanan hidup.
Pertarungan demi pertarungan yang mewarnai hidup orang pesisir telah disampaikan dengan harapan nasib baik segera datang. Novy menggambarkan ketegaran orang pesisir namun ketegaran ini disampaikan pada khalayak dengan harapan tak menyepelekan orang pesisir. Kendati ketegaran yang dikabarkan ada misi penting yang dibawa supaya generasi muda pesisir tak mengalami pertarungan yang lebih sengit.
Ketegaran yang dimiliki oleh seseorang tentu memiliki batas dan hal inipun diungkap Novy, dengan berucap, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku.
pantai-pantai yang lepas di dadaku adalah gambaran betapa meresahkan hidup berada di pesisir, ianya selalu dipenuhi pertarungan. Ianya selalu dituntut untuk berhati karang, tahan atas segala hantaman gelombang. Namun di sisi lain perlu mengabarkan kepedihan agar yang lain merasa setubuh, seruh. Merasakan derita apa yang diderita orang pesisir agar tiap diri tahu tanpa dukungan orang pesisir, orang kota atau orang yang telah menjadi orang penting penentu kebijakan tentang sejahtera tidaknya orang pesisir bisa merasakan kemelut yang sama.
Mengkhidmati denyut dua baris puisi berikut, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku/memuara pada palung takdir nan piatu/ sama halnya mengkhidmati kegetiran hidup. Ada letup kegelisahan yang begitu karib yang dialami orang pesisir yang pada intinya tak ingin terjadi di masa mendatang.
Novy seakan memahami kegetiran hidup kaum pesisir dan menjadikan puisi sebagai jalan cinta untuk ditempuh sebagai pengobat luka-luka yang terlalu pedih perih.
Benarkah Novy berusaha memperbaiki nasib kaum pesisir? Bukankah yang dilakukan Novy hanya melukiskan betapa tak mengenakkan menjadi orang pesisir yang tiap perubahan detak waktu selalu dituntut untuk menjadi pribadi tangguh agar tak menyerah pada ketakberdayaan. Atau bukankah puisi ini hanya mengandung provokasi yang hanya mengumbar duka kaum pesisir.
Apa yang dilakukan Novy adalah upaya untuk membuat tiap diri semakin peka dengan segala yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dalam hal ini yang dijadikan objek pembahasan kehidupan orang pesisir dengan harapan duka yang dikabarkan di masa kini tak terjadi di masa mendatang.
Inilah ketegasan Novy dalam memperjuangkan nasib orang pesisir, sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu/
menghapus namaku dari ceruk hatimu/ atau bahasa yang lebih mudah dipahami akan aku lakukan apa saja agar kau terus mengingatku.
Dua baris akhir di puisi adalah penanda bahwa untuk meraih kebahagiaan hidup bukan dengan cara menunggu keajaiban turun dari langit melainkan bergerak menjemput kebahagiaan hal ini senada dengan firman Allah, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha mengubah nasib mereka sendiri.
Madura, 26 Juni 2015
__________________________________________________________________________

Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya-karyanya tersebar diberbagai media seperti Mingguan Malaysia, New Sabah Times, Mingguan Wanita Malaysia,Mingguan WartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta,
Daily Ekspres dll juga terkumpul dalam berbagai antologi baik cetak maupun online, terbit di dalam maupun luar negeri seperti Mengasah Alief, Epitaf Arau,Akar Jejak,Jejak Sajak, Menyirat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Ketika Gaza Penyair Membantah, Unggun Kebahagiaan, Anjung Serindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter,Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapa puisinya pernah dibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di Rumah Makan Biyung Jemursari Surabaya dalam acara buka bersama Pipiet Senja (30 Juli 2012),di Jogja dalam Save Palestina (2012), di Sragen dalam temu 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongan dalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di Sastra Reboan dalam Temu Sastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam Kongres Penyair Sedunia ke 33 (21,23,26 Oktober 2013), di Brunei ketika menikmati indah
kampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School Batu Jawa Timur dalam safari menulis bersama Pipiet Senja dkk (Juli, 2014). Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong KomisKedungdung Sampang Madura. HP 087759753073
- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/budaya/menerapkan-konsep-al-quran-dalam-puisi#sthash.5VJC6MW5.dpuf
MENERAPKAN KONSEP AL-QUR'AN DALAM PUISI
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Novy Noorhayati Syahfida
SURAT DARI PESISIR
bagaimana kabarmu?
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku
memuara pada palung takdir nan piatu
sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu
menghapus namaku dari ceruk hatimu
Tangerang, 25 Juni 2015 (E)

SURAT DARI PESISIR, kata Novy memulai polemik tentang kehidupan yang mulai di anak tirikan. Kehidupan pesisir yang perlahan mulai dilupakan oleh sebab itu surat dari pesisir dibuat untuk tiap hati sekedar mengingatkan bahwa kehidupan pesisir bukan kehidupan nisbi, ia nyata dan kasat mata.
Surat dari pesisir, Novy mulai mengajukan kesepian dan hidup yang mulai diabaikan tentang nasib yang seharusnya mendapatkan hak yang sama untuk hidup bahagia. Mendapat pendidikan yang layak agar bisa memperbaiki nasib.
Baris awal mulai ada kegelisahan atau bisa pula sapaan untuk menyambung keakraban yang telah lama terputus. bagaimana kabarmu? kata Novy, untuk memulai ikatan batin agar jarak dan tatap mata yang sudah tak tercipta atau sudah merenggut keakraban bisa disambung lagi.
Menanyakan kabar adalah upaya memulai komunikasi yang baik di antara dua hati atau antara orang yang berada di pesisir kepada keturunannya yang telah merantau dan menjadi orang penting di tanah rantaunya.
Pertanyaan deperti ini sangat efektif dijadikan sebuah pembuka komunikasi sebab ianya bisa menjadi jalan yang dapat menghapus jarak yang begitu penuh sekat.
Pertanyaan bagaimana kabarmu lebih pada menanyakan bagaimana cara seseorang menjalani hidup. Bagaimana kabarmu adalah pertanyaan yang lebih filosofis daripada apa kabar kendati keduanya sama-sama menanyakan kabar.
Apa kabar? adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban yang rumit tinggal langsung menjawab kabar baik sebab ianya tidak berkaitan dengan seni bagaimana seseorang menjalani hidup.
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku/ baris kedua semacam tuntutan yang diajukan aku lirik (orang pesisir) kepada seseorang di tanah rantau yang berasal dari pesisir atau kepada orang penting yang pernah datang ke pesisir untuk mencari dukungan teruntuk dinobatkan publik untuk menjadi orang penting dengan segala janji yang pernah disampaikan sebagai pemanis yang pada akhirnya menjadi jalan untuk jadi orang penting.
Barangkali ketabahan yang mulai menipis atau ketakinginan berada dalam situasi derba ragu yang membuat aku lirik menegaskan kemirisan hidup untuk segera ditatap 'mu' lirik.
Apa yang dilakukan Novy adalah metode mengingatkan tiap diri akan suatu hal yang penting dalam al-qur'an semacam ini banyak ditemukan untuk mengingatkan manusia untuk lebih mengenal alam sekitar semisal (أفلا تتذكرون، أفلاتتدبرون، أفلاتعقلون) dan lain sebagainya. Kata tidakkah kau lihat paling tidak untuk mengingatkan akan hal penting yang pernah dialami sebagai bahan renungan agar ianya tak terjadi lagi di masa mendatang.
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
Betapa kemelut yang begitu kalut yang dihadapi orang pesisir yang digambarkan, yang disampaikan penuh raungan agar orang yang dianggap penting tak menganak tirikan orang pesisir yang sangat berjasa dalam memberikan kenyamanan hidup.
Pertarungan demi pertarungan yang mewarnai hidup orang pesisir telah disampaikan dengan harapan nasib baik segera datang. Novy menggambarkan ketegaran orang pesisir namun ketegaran ini disampaikan pada khalayak dengan harapan tak menyepelekan orang pesisir. Kendati ketegaran yang dikabarkan ada misi penting yang dibawa supaya generasi muda pesisir tak mengalami pertarungan yang lebih sengit.
Ketegaran yang dimiliki oleh seseorang tentu memiliki batas dan hal inipun diungkap Novy, dengan berucap, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku.
pantai-pantai yang lepas di dadaku adalah gambaran betapa meresahkan hidup berada di pesisir, ianya selalu dipenuhi pertarungan. Ianya selalu dituntut untuk berhati karang, tahan atas segala hantaman gelombang. Namun di sisi lain perlu mengabarkan kepedihan agar yang lain merasa setubuh, seruh. Merasakan derita apa yang diderita orang pesisir agar tiap diri tahu tanpa dukungan orang pesisir, orang kota atau orang yang telah menjadi orang penting penentu kebijakan tentang sejahtera tidaknya orang pesisir bisa merasakan kemelut yang sama.
Mengkhidmati denyut dua baris puisi berikut, selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku/memuara pada palung takdir nan piatu/ sama halnya mengkhidmati kegetiran hidup. Ada letup kegelisahan yang begitu karib yang dialami orang pesisir yang pada intinya tak ingin terjadi di masa mendatang.
Novy seakan memahami kegetiran hidup kaum pesisir dan menjadikan puisi sebagai jalan cinta untuk ditempuh sebagai pengobat luka-luka yang terlalu pedih perih.
Benarkah Novy berusaha memperbaiki nasib kaum pesisir? Bukankah yang dilakukan Novy hanya melukiskan betapa tak mengenakkan menjadi orang pesisir yang tiap perubahan detak waktu selalu dituntut untuk menjadi pribadi tangguh agar tak menyerah pada ketakberdayaan. Atau bukankah puisi ini hanya mengandung provokasi yang hanya mengumbar duka kaum pesisir.
Apa yang dilakukan Novy adalah upaya untuk membuat tiap diri semakin peka dengan segala yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dalam hal ini yang dijadikan objek pembahasan kehidupan orang pesisir dengan harapan duka yang dikabarkan di masa kini tak terjadi di masa mendatang.
Inilah ketegasan Novy dalam memperjuangkan nasib orang pesisir, sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu/
menghapus namaku dari ceruk hatimu/ atau bahasa yang lebih mudah dipahami akan aku lakukan apa saja agar kau terus mengingatku.
Dua baris akhir di puisi adalah penanda bahwa untuk meraih kebahagiaan hidup bukan dengan cara menunggu keajaiban turun dari langit melainkan bergerak menjemput kebahagiaan hal ini senada dengan firman Allah, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha mengubah nasib mereka sendiri.
Madura, 26 Juni 2015
__________________________________________________________________________

Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Karya-karyanya tersebar diberbagai media seperti Mingguan Malaysia, New Sabah Times, Mingguan Wanita Malaysia,Mingguan WartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta,
Daily Ekspres dll juga terkumpul dalam berbagai antologi baik cetak maupun online, terbit di dalam maupun luar negeri seperti Mengasah Alief, Epitaf Arau,Akar Jejak,Jejak Sajak, Menyirat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Ketika Gaza Penyair Membantah, Unggun Kebahagiaan, Anjung Serindai, Poetry-poetry 120 Indonesian Poet, Flows into the Sink into the Gutter,Indonesian Poems Among the Continents, dll. Beberapa puisinya pernah dibacakan di Japan Foundation Jakarta (10 Agustus 2011), di UPSI Perak Malaysia (25 Februari 2012), di Rumah PENA Kuala Lumpur Malaysia(2 Maret 2012) dan di Rumah Makan Biyung Jemursari Surabaya dalam acara buka bersama Pipiet Senja (30 Juli 2012),di Jogja dalam Save Palestina (2012), di Sragen dalam temu 127 Penyair Dari Sragen Memandang Indonesia (20 Desember 2012), di Pekalongan dalam Indonesia di Titik 13 (Maret 2013), di Sastra Reboan dalam Temu Sastra Indonesia-Malaysia (Agustus 2013), di P.O.RT AmanJaya, Mydin Mall dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam Kongres Penyair Sedunia ke 33 (21,23,26 Oktober 2013), di Brunei ketika menikmati indah
kampoeng air (7 November 2013) di Al-Izzah Islamic Boarding School Batu Jawa Timur dalam safari menulis bersama Pipiet Senja dkk (Juli, 2014). Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong KomisKedungdung Sampang Madura. HP 087759753073
- See more at: http://www.konfrontasi.com/content/budaya/menerapkan-konsep-al-quran-dalam-puisi#sthash.5VJC6MW5.dpuf

Sabtu, 06 Juni 2015

MANUSIA KREATIF DAN POLEMIK YANG HARUS DITAKLUKKAN

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Penyair bisa juga disebut manusia kreatif, selain tak henti berproses dalam bentuk pengucapan, ianya akan senantiasa mengadakan pertaruhan demi pertaruhan termasuk dari segi penyajian bentuk. Moh. Ghufron Cholid

Muhammad Lefand
ESTETIKA

entah berapa makna
setiap tafsir selalu berbeda
tentang definisi yang sementara
estetika tak dapat menemukan mata
tiap pandangan hanya menembus koma
intim diksi semata terjebak risalah kata-kata
kepada teks tak cukup untuk memaksakan tanda
akan kesempurnaan yang sebenarnya tetap rahasia

Jember, 09-05-2015

SELEMBAR SURAT PUISI

setelah berpisah
engkau jauh dikisah
lelah rindu jadi risalah
entah tak terhitung resah
malam purnama hilang cerah
bersama darah yang ikut pasrah
akan takdir jarak pertemuan wajah
rasa sepi simpan kata penuh lembah

surat ini
untuk berkabar diri
rahasia kutulis seperti puisi
agar semua luka tak lelah dimengerti
tentang pertemuan yang terpisah gugurnya pagi

padamu aku ingin
ungkap harap yang telah dingin
ikat kebahagiaan, nikmati semilir angin
seperti sepasang merpati di atas pohon beringin
indah tentu bila apa yang kuingin, engkau juga sama
ingin

Jember, 09-05-2015

Muhammad Lefand yang baru-baru ini menerbitkan buku jangan panggil aku penyair juga ikut andil menawarkan rupa puisi dari segi bentuk, yang oleh pencetusnya dimanai puisi Sakmasek, yang konon nama ini diilhami oleh Arca Maya Pada, yang ketika itu memberinkan komentar pada karya Muhammad Lefand Asepsap, yang kemudian diartikan menjadi Sakmasek.

Tak ada ide yang lahir dengan sendirinya sebab ianya muncul karena dilatar belakangi ragam faktor, baik bersinggungan langsung dengan permasalahan ataupun ianya dilahirkan ketika menjadi saksi mata dari sebuah perjalanan kreativitas.

Muhammad Lefand lewat dua puisinya berjudul ESTETIKA dan SELEMBAR SURAT PUISI telah mencoba menawarkan sebuah rupa sebagai penanda diri manusia kreatif dari sisi bentuk puisi.
Mengamati dua puisi yang dihadirkan, paling tidak ada dua rupa yang ditawatkan yakni puisi berpola akrostik (puisi yang jika disusun ke bawah akan membentuk nama atau sebuah kejadian) dan puisi berbentuk piramid.

Kehadiran puisi Sakmasek juga mendapatkan apresiasi dari penyair Muhammad Rois Rinaldi yang baru-baru ini menerbitkan buku puisi berjudul TERLEPAS, berikut apresiasinya, siapapun boleh mengajukan hasil pikir dan olah empirisnya dalam dunia perpuisian. Sakmasek--senada dengan 2,7--mengajukan puisi berpola. Bukan baru, memang. Apa lagi mengaitkan dengan akrostik. Hanya beberapa aksen ditambahi. Semoga pola ini lolos uji waktu dan alam semesta.

Tiap kreativitas tentunya melahirkan pro dan kontra, selalu ada cara mendewasakan diri dari sebuah pengembaraan kreativitas, hanya yang istiqamah yang kelak bisa dikenali permata.
Menamai sebuah kreativitas adalah hak tiap diri namun konsekuensi yang harus dihadapi adalah gempuran, demikian cara waktu menyeleksi. Ada yang cepat melejit, menggemparkan lalu perlahan hilang dan dilupakan.

Dalam puisi berjudul ESTETIKA yang diusung bagaimana penyair menyematkan pandangannya tentang sebuah estetika. Yang lebih ditekankan dari estetika adalah kesempurnaan sebenarnya sifatnya rahasia.
Yang tak bisa disangkal adalah pro dan kontra dari segi bentuk dan tanda namun yang terpenting dari keduanya adalah kesempurnaan dari estetika itu terletak pada sifatnya yang masih rahasia. Dalam puisi berjudul SELEMBAR SURAT PUISI secara runut penyair menghadirkan polemik namun intisari juga ditegaskan adalah keinginan yang saling bersambut membuat hati semakin lembut.

Madura, 31 Mei 2015

TIGA PENYAIR PEREMPUAN YANG MENGGAMBAR HATI MANUSIA

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Penyair selalu memiliki cara mengurai mata rahasia yang ditumbuhi riuh juga penyerahan total atas segala yang berdegup, kesemuanya ditempuh dengan jalur puisi. Moh. Ghufron Cholid
Novy Noorhayati Syahfida
KEPULANGAN


terlalu banyak yang ingin kulupakan
sekoper kenangan tentangmu
riuhnya sepasang kecupan
juga mata yang selalu memelukku, matamu
yang menyimpan keping rahasia di rentang waktu
mengalir ke sungai-sungai sepi
singgah di hilir yang sunyi
sebagai air yang jatuh
sebagai alamat berlabuh
dari sebuah kepulangan yang jauh

Tangerang, 05/06/2015

RESAH YANG MEMANJANG

Bila saja air hujan ini bisa kujadikan tinta
Ingin kutuliskan berapa banyak luka dan kecewa
Yang telah kau goreskan namun enggan kau baca
Haruskan kisah menggelisah selalu terbuhul tanda tanya

Sherly Jewlis Lee ( 7-6-2015 )

Noor Aisah Maidin (Penyair Malaysia)
MUNAJAT JIWA

TanpaNya
segala warna tiada indah
semua tuju tiada makna
segenap buat tiada upaya
seluruh hidup tiada guna

DenganNya
sekecil mana jua, mega jadinya
sehalus apa jua, nyata rupanya
sezarah bagaimana jua, wujud adanya
sekuman di mana jua, benderang hasilnya

Dari segi judul ketiga perempuan yang menulis puisi memiliki cara ungkap yang tentunya berbeda. Novy terbilang memilih jalur remang-remang yang jika ditilik dari judul tiadalah mengekspresikan penentuan sikap sementara Sherly langsung memnidik persoalan dengan mata resah dan Noor Aisah langsung menggambarkan keintiman dirinya dalam menempuh jalan iman.

Novy mengawali baitnya dengan sebuah polemik,
terlalu banyak yang ingin kulupakan/ semacam ada kecewa yang begitu mendera. Kebersamaan yang pernah menentramkan hati sudah menjadi rupa nyeri.

Novy mengkondisikan keseluruhan baitnya dengan nafas yang penuh ratap, barangkali kecewa terlalu mengakar dalam diri sehingga hasrat yang paling puncak adalah melupakan segala kenang.

Mengamati judul dan isi puisi yang diperkenalkan Novy kepada kita selaku pembaca, agaknya Novy ingin memberlakukan metode ziq zaq dalam menyampaikan idenya. Menjadikan judul remang-remang yang bisa jadi mengecoh pembaca jika hanya terpaku pada judul.

Dibandingkan Novy, Sherly lebih tegas menyuarakan gundah. Hal ini langsung bisa diterka dari cara Sherly memberi judul yang tak ada kesan bertele-tele. Sherly langsung menampilkan wajah duka.

Dalam gejolak yang memuncak, rupanya Sherly masih mampu menahan laju emosi, dengan mengkondisikan perasaan yang menuntun ke arah perenungan. Polemik yang penuh resah yang digemakan Sherly ditutup dengan pertanyaan menggantung, Haruskan kisah menggelisah selalu terbuhul tanda tanya/.

Sherly seakan ingin menggelorakan tiap suasana hendaknya memiliki jeda untuk lebih mengenal diri dalam menangkal segala gejolak yang ada. Perenungan ini sebagai upaya menggali kearifan hati.

Noor Aisah lebih suka mengungkap sisi spritual dari kehidupan manusia dengan menjadikan Allah pusat segala. Ada uraian betapa rapuh dan remuk hati manusia tanpa Tuhan. Betapa hilang arah dan gairah hidup tanpa Tuhan. Segala menjadi tak bermakna tanpa Tuhan.

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk bertuhan jika kita merujuk pada firman Allah, "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah."

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa masih ada atheis jika memang benar manusia makhluk bertuhan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentulah harus mengenali watak dasar manusia yang jika dalam keadaan masa tersulit manusia selalu mengharap kekuatan maha dahsyat dalam dirinya untuk keluar dari segala kemelut.

Kekuatan maha dahsyat tersebut adalah kekuatan Tuhan dan di masa damai atau masa jaya manusia kerap menepuk dada, dengan bangga memperkenalkan apa yang didapat adalah jerih payahnya sendiri. Kenikmatan yang didapat menjadikan manusia berada dalam dua situasi yang senantiasa menuntut untuk dipilih yakni bersyukur atau kufur.

Munat Jiwa paling tidak upaya penyair perempuan Malaysia mencubit hatinya dan hati kita selaku pembaca yang sedang menelusuri pemikiran penyair. Bisa pula sebagai upaya membeningkan jiwa dan menghidupkan Tuhan.

Pada hakikatnya ketika penyair sama-sama hendak membidik hati dengan gaya khas mereka yang menunjukkan keragaman atau bisa pula mengungkap sisi orsinalitas dari sebuah karya. Pada hakikatnya jika karya ditulis sendiri oleh tiap pribadi pastilah memiliki diksi berlainan dan rumuan rasa yang memiliki perbedaan dari segi penekanan pandangan. Yang membedakan dari bidikan ketiga penyair adalah sudut pandang dan mengenali dan memberikan solusi pada polemik yang diusung.

Novy cendrung lebih lentur dalam mengungkap. Ianya tak langsung menjadikan judul sebagai pintu pandangan yang langsung melukiskan inti persoalan dan membiarkan pembaca mengalami pergolakan batin pada isi puisi, sementara Sherly langsung menjadikan judul sebagai wajah duka namun mengekskusi akhir puisinya dengan renungan. Noor Aisah memiliki kesaamaan dengan Sherly dalam memperlakukan judul puisi, yang berbeda adalah Noor Aisah lebih suka memperkenalkan sisi spritual dari manusia.

Madura, 7 Juni 2015
*Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, menulis puisi, pantun, cerpen dan esai, menetap di Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. HP 087759753073

Senin, 25 Mei 2015

KIAT MEMPERCANTIK IMAN



Gurindam Hati demikian Zulfaizal Putra menamai anak imajinya yang disajikan secara serial namun yang menjadi pokok bahasan hanya bertumpu pada gurindam hati(27) yakni adab berias. Gurindam yang menjadi ciri utamanya memuat naseh
at. Moh. Ghufron Cholid

Niatkanlah berias untuk beribadah/niscaya akan peroleh faedah// bait pertama yang hanya terditi dari dua larik, penyair menyematkan penting berias bertujuan ibadah agar dapat memperoleh faedah.

Ibadah haruslah menjadi nafas segala aktivitas, barangkali beginilah Zulfaisal hendak menegaskan pandangan agar yang dilakukan tak sia-sia dan penuh pahala.

Gurindam mensyaratkan dalam tiap baitnya haruslah dua larik dan pembahasan paling utama berunsur nasehat. Jika bait pertama penyair memfokuskan pekerjaan baik haruslah dimulai dari niat baik maka bait kedua menggambarkan dua pandangan dalam satu siatuasi bersamaan tentang tak boleh salah niat dan efeknya, berikut penuturannya, Hindarilah berias untuk dapat pujian/niscaya takmenjadi kesia-siaan//

Bila mengamati larik kedua pada bait kedua terdapat diksi yang ditulis takmenjadi yang seharusnya tak menjadi, barangkali ini kesalahan ketik atau faktor kesengajaan namun dalam hemat saya lebih baik direnggangkan saja agar lebih cantik dipandang atau nafas penulisannya tak terkesan tergesa-gesa.

pastikanlah bahan berhias halal/niscaya bagi tubuh menjadi amal// larik ketiga rupanya penyair semakin memantapkan hati bahwa pada hakikatnya kecantikan/ketampanan haruslah dibina luar dan dalam. Hiasan fisik memang menawan namun ditopang inner beauty akan lebih memiliki nilai lebih.

awalilah berhias dengan basmalah/niscaya disertakan berkah allah// agaknya penyair sisi spritual dalam bait ini sangat ditonjolkan bahwa Allah harus menjadi segala tuju dan segala perbuatan baik. Basmalah adalah pembuka segala berkah oleh karenanya memulai segala sesuatu yang baik merupakan sangat dianjurkan.

berhiaslah mulai tubuh sebelah kanan/niscaya akan memperoleh segala kebaikan// dalam hal ini pendidikan agama yang tertanam kokoh agaknya mempengaruhi karya Zilfaisal, memulai kegiatan baik dari sebelah kanan adalah anjuran agama.

janganlah mengubah bagian anggota tubuh/niscaya akan terpelihara secara utuh//ada penekan yang dikabarkan tentang pentingnya konsentrasi dan keyakinan yang teguh agar segala gerak dan laku tak terombang ambing.

pakailah wangian yang tak beraroma tajam/niscaya takada orang yang memendam// dalam mengurai pandangan agaknya Zulfaisal tak hanya menulis ianya menggunakan kepekaannya dalam mengenal alam sekitar dan menjaga hubungan. Secara akamiah manusia memang menyukai segala hal yang berbau harum namun dalam pemakaiannya ada ketegasan agar tak berlebihan supaya tak menjadi pusat gunjingan orang sekitar karena sudah melampaui batas kewajaran.

berhiaslah agar tak berlebihan/niscaya tetap dalam takaran iman// Penyair sangat menyorot kebiasaan manusia yang cendrung berlebihan dalam menyikapi persoalan dan berlebihan dalam menggunakan karunia yang diterima. Berlebihan dalam mencintai dan memusuhi orang lain.

Prilaku berlebihan inilah yang sangat ditentang agar tiap pribadi tetap berada dalam takaran iman.

jauhilah tabarruj dalam berhias/niscaya terhindar ajab takterbatas// bait pamungkas merupakan intisari dari segala pandangan untuk tetap menjaga takaran iman.

Menonjolkan lekuk tubuh merupakan suatu kebanggan bagi tiap diri yang menganut keyakinan bahwa tubuh indah adalah segala-galanya. Keindahan tubuh yang menjadi pemikat inilah yang menjadi puncak sorotan agar tak menjadi kebiasaan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan petaka.

Secara keseluruhan selepas membaca gurindam yang ditulis Zulfaisal Putra dapat disimpulkan bahwa tak berlebihan dalam berias penanda iman sudah menetap dalam dada.

Madura, 24 Mei 2015

PUISI YANG MELEMBUTKAN HATI

Cinta hadir sebagai penyempurna dan pembangkit sisi kemanusiaan. Ia yang mencintai sepenuh hati tak hanya menanti untuk dijadikan permaisuri hati, ianya menjadi pelipur lara ketika duka mendera. Moh. Ghufron Cholid

Novy Noorhayati Syahfida
BIARKAN AKU DI DADA KIRIMU

ini luka kian nganga
ketika jarak tak mampu ditera
kemarau belum lagi reda
beribu kenangan berjatuhan menikam dada
menggenang dalam doa-doa

meski bukan bidadari ke tujuh puluh satu
biarkan aku di dada kirimu
menjadi separuh dari hatimu

Tangerang, 22 Mei 2015

Novy Noorhayati Syahfida
MENJADI BAYANGAN

aku ingin menjadi pagimu
menyambut bangun pertamamu
dengan kelopak embun perindu

aku ingin menyentuh wajahmu
hangat, dengan dua tanganku
meresapinya begitu haru

aku ingin menjadi lautmu
muara dari kegelisahanmu
menyerumu bagai ombak menderu

Tangerang, 25 Mei 2015
Kali ini Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang) hadir
dalam dua puisi bertema cinta yang lahir di bulan Mei.
BIARKAN AKU DI DADA KIRIMU dan MENJADI
BAYANGAN. Jika mengamati dua judul secara
mendalam didapat kesimpulan awal bahwa ada
keinginan kuat untuk menjadi orang paling istimewa
buat orang teristimewa.

Ada apa dengan dada kiri? Mengapa penyair begitu berhasrat tinggal di dada kiri? Rupanya terdapat tulang rusuk. Bukankah perempuan memang dicoptakan dari tulang rusuk laki-laki. Penyair ingon ikut ambil tempat istimewa menjadi penyempurna separuh iman. Mengambil peranan penting dalam hidup khususnya cinta.

Bait pertama membuka persoalan hidup yang penuh sayatan duka. Bait kedua mempertegas posisi bahwa aku lirik ingin memberikan yang terbai kendati menyadari dirinya jauh dari kesempurnaan. Membaca puisi BIARKAN AKU DI DADA KIRIMU secara berulang saya menemukan intisari yang manis yang menurut hemat saya, kendati puisi ini dijadikan sebait dan diwakilkan pada dua larik saja, puisi ini akan tampak menarik dan merangsang pembaca untuk lebih mengintimi pandangan penyair secara utuh.

biarkan aku di dada kirimu
menjadi separuh dari hatimu

Yang akan timbul pertanyaan adalah mengapa harus separuh hati? Jawabnya karena sepasang insan yang berada dalam ikatan tentunya saling melengkapi. Separuh hati bisa dimaknai pelengkap dari hati pasangan. Artinya pasangan itu pada hakikatnya tercipta untuk saling menutupi kekurangan dan semakin menrguhkan keyakinan.

Bagaimana pun juga semua terpulang pada Novy tetap bertahan pada pilihannya atau mempertimbangkan apa yang saya tawarkan jika dirasa ada kebaikan. Saya hanya mencoba menyajikan puisi lebih ramping fengan langsung membidik sasaran.

MENJADI BAYANGAN judul kedua ini lebih membidik persoalan tanpa harus menyisakan kemisterian seperti yang fihadirkan penyair pada puisi pertamanya. Bayangan adalah copian dari kenyataan, ianya menjadi satu kesatuan yang utuh.

Agaknya penyair ingin menjadi yang pertama yang paling setia menemani segala aktivitas, berikut penuturan penyair,
aku ingin menjadi pagimu
menyambut bangun pertamamu
dengan kelopak embun perindu

Barangkali memang terasa sangat lebay namun memang sangat menentrakan saat diucapkan kepada belahan jiwa sebab ianya juga menjadi salah satu faktor penyemangat dalam bekerja.

Pagi adalah penanda mimpi diterjemahkan sepenuh hati. Pagi adalah awal memulai kreasi dan meluruskan segala sejarah yang bengkok. Pagi merupakan penanda pertarungan dimulai dan harus dimenangkan.

Dalam bait kedua, penyair tak hanya berkelakar, ianya ingin memberikan yang terbaik, selalu menjadi saksi mata dan penyemangat. Berikut penuturannya, aku ingin menyentuh wajahmu/hangat, dengan dua tanganku/meresapinya begitu haru//

Aku lirik telah sepenuh hati meyakinkan pasangan bahwa ia tak hanya menemani di kala suka (bahagia), ia juga setia menemani dalam duka. Ia juga ingin merasakan getir perjuangan dan haru yang dilahirkan dari kerja keras.

Bait ketiga ingin menegaskan pengabdian aku lirik pada orang yang dianggap istimewa. Diksi laut adalah tepat digunakan sebab ianya bisa menjadi simbol ketabahan. Dalam tenang laut tak terbaca gejolak gelombang. Berikut penuturan penyair, aku ingin menjadi lautmu/muara dari kegelisahanmu/menyerumu bagai ombak menderu//

Pada hakikatnya kedua puisi yang dihadirkan penyair hendak menegaskan bahwa aku lirik bukanlah orang yang pasif dalam bercinta. Bukan pula orang yang mau memanfaatkan kekasihnya untuk kebahagiaan dirinya. Aku lirik di posisikan sebagai pemberi penyeimbang dan pemberi semangat. Pribadi yang tak pernah usai menunjukkan bakti cinta yang suci.

Madura, 25 Mei 2015

Sabtu, 18 April 2015

PERTALIAN LATAR HIDUP DAN KARYA YANG BERDEGUP

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berbicara latar hidup dan karya yang berdegup adalah hal yang sedang saya lakukan pada karya juftazani
seorang penyair yang juga penganut sebuah thariqah dalam puisi berjudul kepasrahan. Moh. Ghufron Cholid
KEPASRAHAN
Juftazani
larut jiwaku
bagai kabut bersimpuh diterpa cahaya
engkau angkuh !
aku ringkih
kuselimuti diriku
dengan kelembutan doa
walau hampa tanpa makna
terimalah aku di ladang-ladang cahaya
larut sukmaku
bencana membenamkan ruhku ke rawa-rawa
diperbatasan sunyi kurenungi hari
yang tak mampu kugenggam lagi
dan langitmu terkuak mencemaskanku
lalu kau renggut diriku
bagai tikus di terkam kucing
dan pintu langit kau tutup kembali
dalam sunyi
kau tak menyisakan dialog
kau hanya seorang gerilya yang mendeteksi segala
gerak gerikku
kekasihku
aku hanya bisa pasrah kepadamu
apakah engkau akan memerangkapku
atau memelukku kembali seperti dulu
*Penyair, eseis, dan cerpenis Tinggal di Jakarta.
SEKILAS PROFIL PENYAIR
Juftazani, lahir di Pekanbaru, 1960/11/11. Menulis puisi sejak duduk di bangku PGA Negeri Pekanbaru 1974 -1980. Kemudian melanjutkan tradisi penulisannya selama kuliah di IAIN Fak. Adab (SEKARANG UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dari tahun 1981-1988.
Banyak Tulisan-tulisan yang dipublikasikan berbagai media nasional dan lokal seperti PR Bandung, Bandung Post, Masa Kini Yogyakarta, Berita Nasional, Haluan, Riau Pos, Republika, Bera Buana, Media Indonesia dll,
Juftazani berasal dari kedua orang tua Penganut Tharekat Naqsyabandiah. Ketika ia tinggal di Yogyakarta, ia tertarik memasuki
Tarekat Idrisiyah di Tasikalaya dan diteruskan di Jakarta dari tahun 1988 sampai sekarang.
Pernah menjadi mentor (pembimbing) Kelompok Diskusi Sastra Lingkaran Sastra Nucleous di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari tahun 2003 sampai 2005. Pernah menjadi peneliti (Pusat Studi Islam dan Negara (PSIK) Univ.Paramadina Jakarta.
Kemudian peneliti di Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan (LSIK) Jakarta. Bekerja sebagai editor sebuah penerbit. Juga Pernah Menjadi editor koran "online" RIMANEWS. Sekarang bekerja sebagai editor dan penyair. Kini ia aktif bekerja di Konfrontasi Media Online sebagai reporter.
PEMBAHASAN
Setiap sesuatu dilahirkan dalam keadaan suci, sebuah renungan berulang yang saya lalukan untuk mengakrabi puisi berjudul kepasrahan. Saya diserbu ragam pertanyaan bisakah segala sesuatu ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptkan? Lalu pertanyaan tersebut mulai menemukan titik terang ketika saya
dihadapkan dengan firman Allah kun fayakun (jadi maka jadilah) dengan demikian segala sesuatu ada karena
ada yang menciptakan. Lalu pertanyaan saya pun berkembang apakah sifat seseorang terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang membentuk atau tanpa melewatisebuah proses? Pertanyaan itu pun
menemukan jawaban ketika saya berhapan dengan proses penciptaan langit dan bumi beserta isinya dalam enam masa. Saya pun perlahan menyimpulkan bahwa sebuah sikap yang muncul atau dimunculkan oleh seseorang bukan muncul tiba-tiba melainkan ada proses yang membentuknya. Saya kemudian mengambil langkah untuk memasuki bait pertama dari juftazani untuk menemukan titik terang,
larut jiwaku
bagai kabut bersimpuh diterpa cahaya
engkau angkuh !
aku ringkih
kuselimuti diriku
dengan kelembutan doa
walau hampa tanpa makna
terimalah aku di ladang-ladang cahaya
Mengakrabi bait pertama, saya menemukan pelajaran hidup bahwa sejatinya hidup tak pernah lepas dari
ragam kemelut. Rupanya Juftazani begitu ingin berbagi risalah hidup, kegoncangan yang menerpa ketenangan telah pun ia hadirkan berikut cara menyiasati.
Bait pertama mengingatkaxn saya pada firman Allah, sesunggunya manusia diciptakan dalam keluh kesah. Di sisi lain saya dihadapkan pada firman Allah bahwa harus senantiasa berloma dalam kebaikan atau fastabiqul khoirot atau firman yang lain ayyukum ahsanu amala (untuk mengetahui yang paling baik amalnya).
Bait pertama berisi pengakuan tentang ketakberdayaan
manusia, bagaimana cara menyiasati ketak berdayaan
yakni dengan usaha dan doa disertai kepasrahan
sepenuh yakin.
Pada bait kedua Justazani memotret sifat dasar manusia yang cendrung berkeluh kesah dan penuh umpatan karena tak bisa mengawal hati,
larut sukmaku
bencana membenamkan ruhku ke rawa-rawa
diperbatasan sunyi kurenungi hari
yang tak mampu kugenggam lagi
dan langitmu terkuak mencemaskanku
lalu kau renggut diriku
bagai tikus di terkam kucing
dan pintu langit kau tutup kembali
Pemotretan tentang iman manusia dihadirkan di bait kedua yakni pada hakekatnya iman bertambah dan berkurang. Ketika iman sudah berkurang dan nyaris tak ada maka yang terjadi adalah menggugat takdir, kesadaran yang utuh dalam mengingat Tuhan mulai pudar, yang tersisa hanyalah menyalahkan keadaan.
Menyalahkan Tuhan karena dipandang nengabaikan doa-doa yang telah dihaturkan. Manusia pada titik kesadaran terbawah cendrung melupakan segala karunia yang telah diterima. Segala kebahagiaan yang pernah didapat dan disyukuri tak pernah diingat lagi. Dengan demikian pada hakekatnya dalam menjalani hidup tak boleh terlalu jumawa ketika saat berada dalam kesuksesan karena adakalnya manusia memiliki permasalahan hidup yang akan membuatnya dikuasai kalut.
Melupakan segala nikmat. Mengganti syukur dengan kufur yang disertai umpatan.
Pada batas kesadaran paling tidak bait ketiga menjadi titik terang bagi seseorang yang tahu diri dan sadar fungsi. Pada bait ini saya seakan menemukan jiwa Justazani yang sudah menempuh jalab hidup lewat thariqah yang ditekuni. Berikut saya hadirkan pandangan penyair lewat bait ketiganya,
dalam sunyi
kau tak menyisakan dialog
kau hanya seorang gerilya yang mendeteksi segala
gerak gerikku
kekasihku
aku hanya bisa pasrah kepadamu
apakah engkau akan memerangkapku
atau memelukku kembali seperti dulu
Thariqah adalah jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, biasanya ditempuh dengan banyak berzikir mengingat Allah dan melakukan ragam kebajikan lainnya semata-mata mengharap ridhaNya.
Pada puncak persoalan hidup seperti yang dihadirkan penyair dalam bait ketiga, betapa nwnyadari keadaan dan menginsafi diri sangat penting. Jika dipelajari dari latar hidup penyair yang mendalami thariqah maka ditemukan pertalian antara laku dan karya yang dihadirkan. Puisi yang merupakan lukisan penyair secara pandangan juga bisa dipengaruhi oleh latar hidupnya.
Hal ini bisa ditemukan dalam bait ketiga yang merupakan ketegasan penyair seutuh kepasrahan.
Madura, 23 Maret 2015

CARA PENYAIR MENGUNGKAP CINTA


Oleh Moh. Ghufron Cholid
BEBUIH CINTA adalah puisi yang diniatkan untuk mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan, sesuatu yang pernah menggoda rasa. judul ini terdiri atas dua kata yakni bebuih dan cinta. bebuih adalah jamak dari kata buih, atau pengulangan kata tak sempurna, yang seharusnya ditulis buih-buih. atau bisa dimaknai kumpulan buih. cinta adalah sebuah rasa yang tak memiliki rupa namun kehadirannya bisa dirasakan.
Berikut saya postingkan puisi karya irwan abu bakar secara utuh,
BEBUIH CINTA
Secawan teh yang kau hidangkan
berbuih-buih menggoda rasa
lantas bebuih bertukar corak
membentuk sekuntum imejan cinta.
Secawan teh yang kauhidangkan
dituang dari hati yang suci.
-IRWAN ABU BAKAR
Kuala Lumpur, 14.04.2015
(Foto c. Irwan Abu Bakar - iPhone 5C)
puisi ini terdiri atas dua bait. bait pertama berisi latar suasana. penyair menggambarkan tentang pengalamannya menikmati hidangan minuman, lalu mewacanakan persoalan cinta. bisa dibilang kreator hendak mengangkat cinta lewat hal-hal yang tak terduga. suatu yang lumrah dan sering dilihat oleh tiap mata menjadi hal yang istimewa di tangan seorang penyair. Pengalaman menikmati teh dikorelasikan dengan persoalan cinta.
Secawan teh yang kau hidangkan
berbuih-buih menggoda rasa
lantas bebuih bertukar corak
membentuk sekuntum imejan cinta.
membangkitkan rasa cinta bisa datang dari hal yang remeh temeh. secawan teh bisa dijadikan media untuk menguatkan rasa cinta. berawal dari secawan teh yang
dihadirkan oleh seorang kekasih maka lahirlah sebuah upaya mengalihkan efek yang disaksikan ke arah lain yang lebih membahagiakan, upaya membentuk rasa cinta.
ada persoalan yang sangat mebarik seputar cinta seperti yang disampaikan penyair di bait terakhirnya, 

Secawan teh yang kauhidangkan
dituang dari hati yang suci.

cinta akan tercipta indah dan menentrakan jiwa karena dihadirkn dari hati yang suci. cinta abadi, cinta tanpa wasangka adalah cinta yang lahir dari hati yang suci (tulus). Ada penawaran tentang cinta, cinta yang menentramkan adalah cinta yang diawali dari perasaan yang tulus. Cinta yang tak ada unsur manipulasi. cinta yang tak menerapkan ada udang di balik batu.
MUASAL IDE
Berbicara soal ide menulis, keluhan demi keluhan kerap kali didengar dari satu penulis ke penulis lain. Ada yang memutuskan berhenti menulis lantaran terus saja bertemu dengan kebuntuan ide. ada yang berhenti menulis lantaran terventur padatnya kegiatan.
Lalu bagaimana menyiasati ide menulis agar tak menjadi momok menakutkan bagi seorang penulis? sebenarnya ide ada di sekitar kita, hanya saja kita menutup diri dan nembuat dinding penghalang sendiri.
Irwan Abu Bakar, penyair Malaysia agaknya tak terjebak dari momok menakutkan dalam menghadirkan ide menulis hal ini bisa dilihat dalam puisi yang dihadirkan kepada kita selaku pembaca. BEBUIH CINTA merupakan puisi yang diangkat dari aktivitas keseharian dalam menikmati minuman.
Irwan tampaknya menyadari untuk menulis tak harus dipusingkan untuk terus mencari ide karena sebenarnya ide banyak yang berkeliaran di sekitar kreator. secawan teh telah menjadi bagian dari ide yang coba diolah untuk membangkitkan rasa cinta.
Bebuih Cinta merupakan sebuah kreasi untuk membangkitkan rasa cinta sekaligus sebagai upaya menafikan bahwa buih yang biasanya dipandang sebagai sesuatu yang tak berharga diubah arah menjadi sesuatu yang lebih bermakna.
Bebuih Cinta bisa jadi sebagai upaya kreator berdakwah menanam bebih cinta tanpa harus menggurui. Kreator tak menjadikan dirinya sebagai penjelas dalam menerangkan cinta hanya berfungsi sebagai penunjuk.
Bisa dibilang kerja memantapkan cinta bisa dilakukan dengan menunjukkan sisi cinta yang paling mudah dikenali tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
Madura, 14 April 2015

Rabu, 24 September 2014

RUPA MADURA DALAM PUISI PENYAIR MUDA MADURA

(Esai Apresiatif Atas Puisi Raedu Basha Berjudul Hikayat Negeri Sorga)
Oleh Moh. Ghufron Cholid*

Selasa yang penuh semilir, selepas dhuhur yang penuh zikir, ditemani secangkir kopi torabika saya bertemu dengan puisi penyair muda Madura Raedu Basha, yang merantau ke Yogjakarta, yang berjudul Hikayat Negeri Sorga di sebuah jejaring sosial bernama facebook.
Judul yang begitu memikat, bisikku pada semilir angin, lalu saya lanjutkan membaca, teruntuk siapakah puisi yang lahir tahun 2007 ini dibuat, ternyata buat pulau garam nama lain dari Madura yang menjadi tanah lahir penyair, tempat penyair membuka perkenalan dengan dunia lewat tangis yang memecah kesunyian angkasa.

Saya perhatikan tahun kelahiran penyairnya, saya temukan tahun 1988, berarti usianya saat menulis puisi berjudul Hikayat Negeri Sorga berkisar 19 tahun, usia yang masih begitu muda, namun imajinasinya sudah merantau ke mana-mana.
Ada apa dengan Madura, mengapa mendapat julukan Hikayat Negeri Sorga? Kalau merunut pada kata sorga, tentu Madura begitu berarti dan sangat istimewa bagi kehidupan penyair.

Sorga selalu diidentikkan dengan tempat yang indah dan selalu menyajikan kebahagiaan. Barangkali karena Madura adalah tempat yang paling berharga bagi perjalanan hidup penyair maka tidaklah mengherankan jika Madura ibarat sorga.

Raedu membuka bait pertamanya dengan sebuah harapan yang begitu dekat kebahagiaan, seperti tahun-tahun berlalu perjuangan menemukan hasil yang memuaskan. Kehidupan laut rupanya tak bisa dipisahkan dengan suasana Madura, barangkali karena laut telah menjadi rahim kehidupan bagi umumnya masyarakan Madura, yang begitu terkenal dengan asin garam, asin yang telah menjadi sukma dalam tiap kehidupan. Asin selalu melekat di badan, tetap dikenal keasinannya meski di tanah rantau. Keasin yang begitu memukau kalbu.

Berbangga merupakan bagian dari Madura yang dikenal dengan asinnya, dikenal dengan kultur hidupnya yang penuh tatakrama. Penuh cinta dan gotong royong adalah hal yang menyenangkan. Keasinan Madura tak hanya dikenal di Madura, Jawa, Indonesia bahkan di dunia, keasinan Madura mudah dikenali begitupun orangnya, baik dari tutur bahasanya maupun cara hidup yang selalu penuh keakraban dan tak begitu menyukai sepi di tengah ke ramaian, orang Madura tak menyukai sibuk sendiri di tengah-tengah kebersamaan, keakraban telah menjadi nafas kehidupan, andap asor telah menjadi udara bagi tiap kehidupan orang Madura.

Lalu bukankah ini berbanding terbalik dengan desas desus bahwa orang Madura sangat sangar dan suka bikin onar, terkadang apa yang didengar tentang kesangaran orang Madura, akan berbanding terbalik bila sudah datang ke Madura, begitupun yang dialami oleh penulis senior Indonesia bernama Pipiet Senja saat kami berjumpa pertama kali di Madura, tepatnya di pesantren Al-Amien Prenduan.

Terkadang kabar yang didengar harus dibarengi dengan penglihatan agar mendapatkan informasi berimbang, sebab tidak menutup kemungkinan terciptanya ketidaksukaan terbentuk karena tidak adanya pengenalan secara lebih mendalam.Kenangan, kerinduan, keakraban kadang kala tercipta saat kita tak berdekatan, atau saat kita memandang dari kejauhan, begitulah Raedu mengisahkan pergolakan batinnya pada bait puisinya yang ia namai Hikayat Negeri Sorga.

Bait ketiga Raedu mulai melukiskan tentang ingatan yang begitu menyentuh batin, perjuangan nenek moyang yang tak mau berpangku tangan dalam menggenggam kebahagiaan. Betapa Raedu begitu mengenal tanah kelahirannya, begitu akrab dengan percontohan moyangnya dalam menerjemahkan hidup, yang penuh degup, bahwa kebahagiaan harus dijemput dengan perjuangan.

Bait keempat Raedu mulai menggambarkan ketabahan petani, Raedu begitu memahami kecemasan dan keprihatinan yang dialami petani di Madura bahwa kadangkala kenyataan tak seirama harapan, namun yang membuat mata batin penyair takjub adalah ketabahan petani Madura dalam menyikapi hidup. Berjuang dan terus berjuang tanpa kenal putus asa dan tabah dalam menghadapi cobaan.
Bait kelima meneguhkan keyakinan penyair tentang langkah yang harus diambil, menafasi hidup dengan perjuangan dan kembali menceritakan betapa moyang Madura selalu punya cara untuk menghidupkan semangat mengabdi, yang barangkali bermanfaat untuk keberlangsungan pertiwi jika diteladani. Barangkali inilah gejolak batin yang sudah tak bisa dibendung penyair, yakni menyajikan cara menumbuhkan nurani dan semangat mengabdi bagi generasi penerus pertiwi.
Dalam bait keenam penyair menangkap ada keganjilan, ada yang mencoba memberi desas desus tentang laut yang tak lagi asin, tentu merupakan kekisruhan yang harus cepat ditangangi, agar isu yang tak menyenangkan hati harus hilang berganti harum melati.
Baik ketujuh adalah solusi yang ditawarkan penyair untuk terhindar dari desas desus, atau kengerian yang bakal terjadi di masa depan yakni kembali menajamkan kalimah syahadah, kembali pada hukum Allah, dengan terus menjadikan segala detak nafas ibadah, agar segala yang tak diinginkan tak menyalami hati.
Kalimahsyahadah harus terus menjadi nadi dalam hidup tiap insani. Ada pun puisi yang saya maksud berikut akan saya posting secara utuh
HIKAYAT NEGERI SORGA
: Pulau Garam

angka dalam waktu
perlahan merentakan putaran kincir
di sebidang sudut tambak
petani mendongak ke langit
menadah setitik bintang jatuh ke lubuk lautan
mengharap cahaya
gemulaikan bulir berlian mengkemilau seperti dahulu
saat seribu kapal menghantarkan hasil peluh ini ke haribaan dunia

pada hamparan lautan yang menyelat pulau-pulau impian
kurindukan kembali garam berderap jingga
dari lenguh para petani. meningkahi keasinan kota pada moksa
menjadikan dua rasa saling berkecup di relung delta
garam bergelus
tawar memupus di limutan samudera

dahulu
dari rusuk baling-baling yang pasrah pada angin
aku dapat menatap tangisharu moyangku
air matanya yang tawar dapat kucicipi bila kuasini dengan garam
hingga dari airmatanya dapat kunisbatkan:
perjuangan adalah ketabahan di ladang tanggul
tambak menggulai ketegaran
tambak membuah ketenangan

kemudian tubuh pulau merajut sendiri keindahannya
laksana jelmaan sabana
namun senyuman senja di muka petani
tetap tulus dan bersahaja mengelus hati
meski dari hari ke hari
doa dan peluh berdesakan selaik kisruh

kini sebuah hikayat indah ingin kutembangkan kembali
limpahan kekayaan margalaut yang tiada kudapati selain di pulau ini
sewaktu Pangeran Katandur mengejakan kalimahsyadahah
mengelilingi daratan Madura
: samudera menggumpal kristalan putih. garam membuih
laut mendawuh di kening dermaga
ikan-ikan berlompatan di jantung segara
sungguh rekah Tuhan menggelar sebuah negeri sorga!

namun
entah siapa telah berbual dalam syukurnya
airlaut tiada mengasin lagi
tambak hanya menanam lelah
tambak hanya memanen sepi

Pangeran!
ajari kami lagi mengeja asma kalimahsyadahah
hingga lautan kembali mengkibar bendera layar
memasang rusuk kincir kembali membalingkan gemulai angin
mengarahi sampan-sampan kembali berlayar
menghantarkan ritus peluh ini ke haribaan dunia, seperti dahulu…
sampai harum kembali garamku
searoma derap tasbih para petani

2007

Raedu Basha tak henti berharap, dalam puisi banyak hal yang bisa dilakukan Raedu yakni dengan mengenalkan segala ragam kehidupan Madura yang penuh pendidikan cinta, ketabahan orang Madura yang serupa karang, tak goyang diterjang gelombang.

Raedu seakan hendak mengabarkan bahwa pada hakikatnya orang Madura (moyangnya) adalah pejuang tangguh yang tak mudah berputus asa. Bahwa Madura yang terkenal sangar memang harus dibuntikan dengan cara mengunjungi Madura, agar dapat dirasakan suasana Madura yang penuh cinta.

Kembali pada kalimahsyadah seakan menjadi solusi untuk keluar dari segala kecemacasan, seakan Raedu mengukuhkan kembali bahwa Madura memang layak menyandang serambi madinah atas kekentalan hidupnya dengan agama.

Madura, 6 Mei 2014
*Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) dan Pendiri Dengan Puisi Kutebar Cinta, tinggal di Madura.

MENGGAMBAR WAJAH MADURA YANG RELIGI

Oleh: Moh. Ghufron Cholid
SAJAK RINDU
: untuk Sumenep

jiwaku kian getas
menahan rindu tiada batas
pada tanah pertama ku bernafas

aku pulang bertualang
bukan untuk menggelar pesta lahang
di arena kerapan sapi nan jalang

namun
akan ku rayakan ritual sakral bersajikan muang sangkal

Puisi merupakan jalan alternatif untuk mengenalkan kebudayaan dari sebuah dari daerah yang barangkali belum terjamah (Moh. Ghufron Cholid). Malam ini saya berhadapan dengan puisi Nurul Why yang dilahirkan di Jember pada 29 Mei 2014 yang dia namai Sajak Rindu. Sajak rindu kata Nurul seakan membuka pintu waktu yang langsung menuntun mata untuk mengenali rupa demi rupa dari kenangan. Sajak rindu, kata Nurul dengan nada yang lebih meyakinkan seolah mengajak saya untuk membuka lembaran waktu, saya pun berbalik arah dan mulai mendengarkan penuturan creator.

jiwaku kian getas/menahan rindu tiada batas/pada tanah pertamaku bernafas//

Awal yang manis untuk sebuah rupa bernama rindu, dari tanah rantau bernama Jember, meski saya belum sepenuhnya mengenal creator hanya sebatas rekan FB. Jika mengamati isi bait pertama bisa dipastikan bahwa creator begitu rindu tanah kelahirannya. Saya membayangkan creator serupa garam yang tak bisa dipisahkan dari laut atau semisal cerutu yang tak bisa dipisahkan dari tembakau, aroma Madura masih lekat dalam ingatan meski berada di tanah rantau. Mengapa creator begitu merindukan tanah kelahiran bernama Madura? Karena mungkin Madura telah menjadi udara dalam bernafas. Barangkali benih-benih cinta telah mengakar dalam hatinya.
aku pulang bertualang/bukan untuk menggelar pesta lahang/di arena kerapan sapi nan jalang//

Ada ragam alasan yang membuat seseorang berkeinginan pulang ke kampung halaman, rindu yang menuntun, mengkhidmati keindahan alam atau sekedar bertandang lalu pergi lagi bertualang. Saya tertegun dan terus saja membaca kerapan sapi secara berulang menghadirkan ingatan untuk diperkenalkan sisi lain dari Madura barangkali menjadi tambahan informasi bagi yang belum mengenalnya. Saya pun mendapati diri saya di masa kecil yang begitu riang menonton kerapan sapi yang biasanya diadakan tiap bulan Agustus. Madura dan kerapan sapi serupa bunga dan tangkai saling memberi sempurna. Kerapan sapi biasanya digelar di sebuah lapangan yang luar dan ditutupi dengan tebing-tebing dari bambu, di pintu masuknya biasanya dijaga oleh penjaga karcis. Di dalam lapangan biasanya penonton akan menonton dari ranggun (sebuah ruang panjang tempat menonton kerapan sapi terbuat dari bambu). Kerapan sapi biasanya dikendali seorang Joki dengan dilengkapi cemeti dan memakai kaos bergaris merah putih yang merupakan kaos khas orang Madura, di samping itu memakai ikat kepala atau odeng.

Kepiawaian Joki sangat mempengaruhi menang tidaknya dalam perlombaan, kecelakaan yang biasa dialami para Joki yang terlena bisa salah urat bisa juga patah tulang. Filosofi dari kerapan sapi adalah untuk menjadi pemenang harus berjuang bukan menunggu keajaiban datang dari langit. Kepiawain Joki bisa diibaratkan kepiawaian dalam memimpin agar bisa selamat dalam sebuah kepemimpinan harus bisa menjiwai dan mengenal orang-orang yang ada di sekeliling.

Saya kembali membaca bait pertama dan kedua untuk menangkap point pembahasan, berisi tentang latar suasana jiwa creator tentang Madura. Namun ketika saya memasuki bait ketiga saya mulai tahu bahwa tujuan Nurul menulis sajak rindu adalah untuk mengenalkan salah satu ritual yang dianggap sakral yakni tarian muang sangkal.
namun/akan ku rayakan ritual sakral/bersajikan muang sangkal//

Muang bermakna membuang sementara sangkal bermakna petaka atau kerumitan hidup, dengan kata lain muang sangkal adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk menghindarkan diri dari petaka hidup. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya, barangkali muang sangkal adalah implementasi dari firman Allah. Dengan kata lain dibutuhkan perjuangan untuk merubah nasib. Jodoh, rejeki dan kematian adalah rahasia Ilahi, oleh sebab ketiganya masih bersifat rahasia dan tak ada yang benar-benar mampu untuk menebaknya maka dibutuhkan usaha dan doa, muang sangkal adalah perpaduan dari kedua unsur tersebut yakni memadukan tarian dan doa dalam pelaksanaannya.

Barangkali Nurul tak hendak hanya sekedar menulis sajak rindu untuk dirinya, ada misi suci yang hendak diperkenalkan dalam puisinya, sebuah tradisi yang barangkali tidak diketahui banyak khalayak yakni tarian muang sangkal.Tarian yang berasal dari Sumenep Madura yang dipercaya sebagai salah satu ijtihad untuk menangkal kemungkinan hidup yang tak diinginkan.

Muang sangkal adalah tarian yang menggabungkan dua hubungan sekaligus, hubungan antara hamba dengan Tuhan yang dilaksanakan dalam bentuk doa, hubungan antara sesama manusia dalam bentuk tarian. 'Berdoalah padaKu niscaya Kukabulkan' dan 'Bersilaturrahmihlah maka akan mendapatkan panjang umur dan lancar rejeki' merupakan terjemahan dari tarian muang sangkal.

Pesantren Sebagai Basis Sastra


Oleh Moh. Ghufron Cholid
 
Pesantren sebagai lembaga pendidikan telah banyak memberikan sumbangsih pada kemerdekaan untuk sebuah bangsa bernama Indonesia.Pesantren yang dianak tirikan keberadaannya tidak membuat tenggelam dalam lembah duka. Pesantren terus saja memberikan pengabdian terbaik untuk bangsa.
Para santri sedang apresiasi sastra

Pesantren yang mendapat stigma, kolot, kampungan hanya fokus pada segala permasalahan agama, agaknya perlu diluruskan. Pesantren dengan pendidikan kerohanian semakin memperhalus budi dengan tradisi sastranya. Di pesantren degup sastra terasa sangat nyata. 
Tradisi bersastra bahkan telah menjadi kegiatan yang mengasyikkan baik digemakan dalam bentuk nadham maupun dalam bentuk diba'. Rasanya para pecinta sastra harus bersyukur dan berterima kasih karena bangsa Indonesia punya lembaga pendidikan bernama pesantren, yang sangat kental dengan tradisi sastra. 
Menjadi Civitas pesantren atau sebagai seorang pejuang di ranah pendidikan pesantren, tak harus merasa minder bila disandingkan dengan pendidik yang sudah menempuh pendidikan sampai S3 baik di dalam negeri maupun luar negeri, seharusnya mengedepankan rasa syukur. Kendati jenjang pendidikan ada yang sampai Ibtidaiyah, Tsanawiyah maupun Aliyah, sejatinya kita sudah dibekali dengan ilmu agama dan ilmu sastra.
Tampa harus menempuh jenjang pendidikan tinggi kita sudah dikenalkan kunci pembuka segala ilmu yakni nahwu dan shorrof. Kedua inti ilmu pengetahuan adalah modal dasar untuk membuka ragam ilmu yang belum terbuka. Tak hanya itu kitab blaghah juga menjadi kunci untuk memahami ragam sastra arab.
Kekerabatan pesantren dengan kitab-kitab klasik bisa jadi sebagai titik awal nilai lebih orang-orang yang menempuh pendidikan lewat jalur pesantren dari pada pendidikan umum. 
Menggeluti pemikiran para ulama terdahulu membuat kita sebagai orang pesantren memiliki nilai plus, hanya dengan menempuh pendidikan di tanah kelahiran, di negeri sendiri bisa bertemu dengan ragam pemikiran ulama terdahulu, ikhya' ulumuddin dengan imam al-ghazali, ibu shina dengan kitab pengobatannya, syiir abu nawas, syiir imam syafie dan lain sebagainya. 
Paling tidak orang-orang pesantren harus bersyukur memiliki Gus Dur yang menjadi penanda pesantren lebih dikenal dunia luas dan membubuhkan nama pesantren dalam biodata menjadi suatu hal yang membanggakan, dengan kata lain lulusan pesantren bisa disejajarkan dengan orang-orang yang dengan bangganya memperkenalkan diri di biodata sebagai lulusan kampus ternama.

Menepikan Stigma Buruk Pesantren Sebagai Sarang Teroris

Tak bisa dipungkiri pesantren telah digiring pada suatu pemahaman sebagai basis lahirnya kaum radikal yang dalam bahasa populer sarang teroris. Penggiringan publik pada stigma buruk ini sangat menciderai hati para pendidik atau orang-orang yang pernah menempuh jalur pendidikan pesantren. 
Hal ini harus disikapi dengan lebih dewasa dan bijak dengan adanya stigma tersebut paling tidak keberadaan pesantren mulai diperhitungkan. Adanya pesantren mulai mendapat perhatian, hal semacam ini harus dimanfaatkan dengan baik. 
Pihak asing atau orang-orang luar pesantren mulai ada keinginan untuk lebih mendalam tentang apa itu pesantren, jika bisa dimanfaatkan dengan maksimal akan menjadi penanda baik untuk menghapus stigma buruk tersebut. Agaknya tak kenal maka tak sayang bisa menjadi hipotesa akan lahirnya era baru, di mana kegiatan-kegiatan pesantren mulai dilirik. 
Saya pun bisa bernostalgia dengan ingatan demi ingatan hidup di pesantren utamanya pesantren Al-Amien Prenduan, di mana membuat persiapan mengajar sudah menjadi tradisi baik dari generasi ke generasi yang kemudian mulai diadopsi oleh bangsa Indonesia dalam dunia pendidikan yang dimiliki. Silabus, RPP sudah menjadi akrab di kalangan dunia pendidikan atau kalangan para pendidik.
Tradisi bersastra yang berjalan secara alamiah membuat para santri maupun guru di pesantren Al-Amien Prenduan tampil menjadi juara baik ditingkat regional maupun nasional, dan saya pribadi merasakan buah pendidikan bersastra di pesantren, sampai akhirnya pada bulan Oktober 2013 berkesempatan mengikuti Kongres Penyair Sedunia ke-33, sahabat saya, Ach. Nurcholis Majid pernah menjuarai lomba esai tingkat guru SMA/MA seIndonesia, itu pun didapat saat Nurcholis mengabdikan diri sebagai guru di pesantren. 
Memposisikan pesantren sebagai basis pendidikan dan basis sastra di tengah gempuran anggapan pesantren sebagai sarang teroris bisa menjadi langkah yang sangat tepat. Memulihkan kepercayaan publik dengan mengenalkan tradisi yang sangat khas merupakan langkah jitu untuk menepis segala anggapan buruk. 
Shalat jama'ah, dzikir bersama, mengaji al-qur'an bersama, bershalawat dan tahlil bersama merupakan implimentasi dari sastra yang sesungguhnya. 
Pesantren adalah lembaga pendidikan yang tak hanya fokus pada ilmu-ilmu keagamaan, pesantren bukanlah sarang teroris melainkan basis pendidikan sastra. Pesantren terjemahan dari sastra itu sendiri, Allah itu indah dan mencintai keindahan. 
  Madura, 2014

Jumat, 19 September 2014

PUISI DAN PERJALANAN SPRITUAL DALAM MEMAKNAI KEMATIAN




Oleh Moh. Ghufron Cholid*

Kematian adalah bentuk cinta yang lain dari sebuah kemesraan kencan atau pertemuan yang penuh cekam, ketika kehidupan tak lagi dalam genggaman. Moh. Ghufron Cholid

PENDAHULUAN

Jum’at yang penuh cinta dan berkah saya berhadapan dengan dua puisi yang ditulis oleh Janus A. Satya dengan puisinya TENTANG KEPULANGAN dan puisi yang ditulis oleh Nona Reni dengan judul KEPULANGAN BUNDA, baik JAS maupun Nona Reni sama-sama mengungkap perihal kematian.

Berikut saya posting utuh kedua puisi agar kehadirannya bisa kita nikmati dan bisa kita resapi isyarat yang dikandung oleh kedua puisi dari dua penyair yang sama-sama dibesarkan di group kepenulisan bernama puisi dua koma tujuh.

TENTANG KEPULANGAN

Kusaksikan arakan jenazah
Langit kembara berawan berzah

Janus A. Satya, 2014

KEPULANGANMU BUNDA

Air talkin menghujani bumi
Pucat menggigil duka

Nona Reni, 2014

Kematian adalah tamu yang pasti datang. Kehadirannya tak bisa saling tawar menawar, ianya datang tepat waktu. Ianya adalah ketentuan Allah yang berlaku bagi sekalian makhluk-makhlukNya. Sejatinya JAS maupun Nona Reni seakan ingin mengabadikan moment puitik yang dialami ataupun yang disaksikan untuk mengintimi diri agar lebih mengenal posisi diri. Mengenal kalau tiap pribadi pasti menghadapi kematian.

JAS mulai membuka pandangannya, kusaksikan arakan jenazah, adalah suatu peristiwa yang lumrah dalam setiap kematian pasti ada arakan jenazah, untuk memulai pandangannya JAS menyajikan hal yang sangat umum, yang biasa dilihat dalam sebuah prosesi kematian.

Jika JAS mengawali pandangan prosesi kepulangan adalah jenazah yang diarak ke pemakaman maka Nona Reni membuka pandangannya dengan kegiatan yang berlaku di pemakaman, setelah jenazah diadzani dan dikubur maka dibacakanlah talkin.

Pembacaan talkin adakah manfaatnya jika ianya dibacakan kepada jenazah? Bukankah jenazah sudah dikuburkan, lalu untuk apa pembacaan talkin? Mungkin inilah yang menjadikan NU dan Muhammadiyah berselisih pandangan tentang perlu tidaknya talkin dibacakan.

Apapun perbedaan di Antara umat nabi adalah rahmat, sepakat atau tidak sepakat dengan adanya talkin akan terus menjadi kontroversi, namun yang perlu kita telisik adalah asas manfaat saja yang dikandung dalam talkin.

Meski saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan NU, saya tak menyalahkan Muhammadiyah jika tidak menyenangi adanya pembacaan talkin bagi jenazah, namun yang perlu saya utarakan adalah isi yang ada dalam talkin, oleh ianya banyak mengandung pelajaran. Jika keberadaan pembacaan talkin tak diyakini ada manfaat bagi jenazah, saya tak akan menggugat sebab tiap kepala pastilah memiliki pandangan tersendiri, selama pembacaan talkin lebih mendekatkan diri bagi yang mendengarkan saya rasa tak ada salahnya dibacakan.

Dalam talkin terkandung ajaran kebaikan dan tambahan ilmu bagi yang mendengarkan. Talkin membahas apa yang harus dilakukan seorang hamba yang memiliki Tuhan di dalam kubur. Talkin juga bisa menguatkan imam pendengarnya sejatinya di dalamnya terdapat penajaman mata jiwa. Tentang adanya dua malaikat yang senantiasa menjadi penanya dalam kubur tentang segala lingkup yang mencakup anugerah yang telah diterima manusia dari Tuhannya.

Menhayati pembacaan talkin akan membuat tiap hati bergetar, langit kesombongan semakin runduk, tidak ada alasan untuk menepuk dada atas segala keberhasilan yang dicapai manusia sebab sejatinya adalah pemberian Allah.

Kembali pada pembahasan larik kedua dari puisi yang ditulis oleh JAS, Langit kembara berawan berzah. JAS seakan tak mau melepas pelajaran ruhani yang diterimanya lewat puisi TENTANG KEPULANGAN yang ditulisnya, meski hanya mengabarkan tentang keadaan manusia sebelum tiba di pemakaman namun JAS lebih menekankan sejatinya langit yang disaksikan penyair kala itu merupakan lukisan alam berzah. Langit kembara berawan berzah. Jadi langit yang cerah. Langit yang mengajarkan kebahagiaan telah beralih fungsi menjadi langit yang menitipkan ketakutan. Langit yang mengingatkan diri tentang akan adanya kiamat kecil yang lambat laun akan menyapa tiap manusia yakni kematian.

JAS menemukan langit yang lain, langit yang tak selalunya menggambarkan keramahan, kebahagiaan namun langit yang disaksikan JAS dalam gejolak batin menyaksikan jenazah adalah langit yang merundukkan kesombongan. Langit yang mengingatkan tentang adanya ketidak kekalan. Langit yang terus saja membatikkan keinsafan. JAS mengulang perjalanan spritualnya dengan berucap langit kembara berawan barzah.

Awan seperti apakah yang dimaksud penyair yang tertera dalam pengucapan berawan barzah? Adakah awan tersebut? Di sinilah JAS mengulah pergolakan batin, mengenalkan kematian dengan Bahasa puitik dengan menegaskan pengalamannya yang memuncak pada keinsafan, langit kembara berawan barzah. Awan yang hanya ditemukan dikehidupan di alam yang lain, bukan alam yang kita tempati ketika hidup. Alam kandungan, alam kehidupan, alam barzah dan alam kebangkitan adalah empat alam yang akan dilewati tiap manusia, keturunan nabi adam dan siti hawa. Oleh JAS tak sampai membahas puisi TENTANG KEPULANGAN  di sekitar pemakaman maka berawan barzah ialah diksi yang ingin disampaikan untuk membahas alam barzah. Alam kematain, di mana segala anugerah yang dihadiahkan Allah dipertanyakan oleh dua malaikat Munkar dan Nakir.

Lain JAS, lain pula dengan Nona Reni, di larik kedua dalam puisinya, Nona Reni semakin mempertegas pandangannya. Tentang pergolakan batin yang terjadi di sekitar pemakaman yakni Pucat menggigil duka. Ada yang begitu dahsyat yang terjadi pada seorang anak di hari kematian ibunya. Anak yang pernah diasuh dengan kasihsayang, betapa sangat kehingan. Betapa pucat telah menggigilkan duka.

Bisa saja yang hendak disampaikan penyair adalah pergolakan batin yang dirasakan oleh tiap anak atas kematian ibunya. Bisa pula perenungan yang lahir dari pembacaan talkin, yang membuat diri yang mendengarnya menjadi pucat menggigil duka. Duka akan kehilangan orang yang berharga atau ketakutan yang begitu dahsyat yang dibayangkan oleh tiap diri dalam membayangkan kematiaan. Lantaran mengenang segala amal yang telah diperbuat.

Tiap diri seakan terus didekap ketakutan tentang keadaan yang akan berlaku jika kematiaan itu tiba. Adakah yang akan menangisi kepergian atau malah kepergiaannya adalah peristiwa yang sangat dinanti oleh manusia lain di sekitarnya.

KESIMPULAN
Kematian adalah kado yang akan diberikan Allah pada tiap hamba-hambaNya. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang meresponnya dengan segala ketakutan yang membabi buta. Bagi yang benar-benar mencintai Allah tiada keraguan dalam menyambut kematian, bahkan kematian menjadi suatu hal yang ingin dijemput dengan kegembiraan.

Kematian membela agama dan bangsa adalah kematian yang sangat mulia. Kematian yang akan selalu dikenang. Bagi pejuang. Pergi ke medan perang hanya ada dua pilihan, pulang membawa kemenangan atau mati dengan mendapat gelar syuhada.

Maka ketika terjadi pergolakan di Gaza, jiwa-jiwa yang benar-benar mencintai Allah takkan pernah gentar berjuang sebab kematian adalah kado yang paling dicari ketika kemenangan tak lagi bisa didapat. Ketika kemerdekaan dalam mengagungkan AsmaNya tak lagi diperoleh. Bagi yang mati sebagai syuhada bagi mereka adalah surga, tempat kembali yang nyata. Kematian mereka adalah nama yang akan terus bergema dan menjadi cerita yang harum dari masa ke masa.

Paling tidak ada tiga bekal yang takkan pernah terputus meski manusia telah mendapat gelar almarhum atau almarhumah yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh/salehah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.

Kehadiran puisi TENTANG KEPULANGAN karya JAS dan KEPULANGANMU BUNDA karya Nona Reni paling tidak sebagai gambaran tentang keadaan batin ketika menyaksikan arakan jenazah, atau ketika jenazah dibacakan talqin. Kedua penyair sama-sama menggambarkan tentang kematian yang intinya ingin mengungkap bahwa manusia itu adalah makhluk yang pasti mengalami kematian. Kematian orang lain sejatinya adalah pelajaran pada tiap diri bahwa lambat laun kematian akan hadir dan menemui kita tanpa tawar menawar sesuai jadwal yang telah ditentukan Allah.

Baik JAS maupun Nona Reni di larik pertama yang disampaikan, sama-sama menyampaikan hal yang umum dan terkesan datar, gejolak batik hanya muncul di larik kedua. Larik kedua JAS hanya berisi gambaran bahwa di hari kematian langit yang cerah dan indah akan bermakna langit yang tak henti menitipkan gundah. Langit yang lebih akrab melukiskan alam kematian. Begitu pula yang terjadi di larik kedua Nona Reni, keadaan tiap diri adalah pucat menggigil duka. Duka karena kehilangan orang tercinta atau duka lain yang belum mampu dibayangkan, apakah kematian yang akan diterima lebih baik dari kematian yang disaksikan.

Madura, 19 September 2014
*Pengasuh Pesantren Penyair Nusantara di FB.